Banyuwangi (beritajatim.com) – Seorang warga Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah sukses usaha anyaman atap ilalang. Dia adalah Budi Hartono yang jeli mengambil peluang potensi di sekitarnya.
Pasalnya, tanaman liar berupa ilalang mampu disulapnya menjadi hasil karya yang kreatif. Dari tangan terampilnya, tumbuhan bernama latin Imperata cylindrica itu menjadi pundi ekonomi.
Sektor pariwisata Banyuwangi yang tumbuh subur membawa dampak positif bagi sektor lainnya. Termasuk menjamurnya kafe, resto, dan homestay tradisional, membawa berkah tersendiri bagi usaha anyaman atap ilalang.
Tak hanya itu bekat menggeliatnya usaha, Budi Hartono bahkan mempekerjakan belasan warga setempat untuk membuat anyaman atap tradisional.
Tapi cerita sukses tersebut tak se insant itu. Budi berkisah, konon saat itu dirinya menerima pemutusan hubungan kerja (PHK) dari perusahaan rokok di Kabupaten Malang. Padahal dirinya telah bekerja di pabrik rokok hampir dua tahun.
“Saya akhirnya pulang dan mencoba untuk mencari ide untuk mendapat penghasilan dengan cara lain,” kata Budi.
Setelah di-PHK, Budi sempat pontang-panting mencari penghasilan. Sempat juga Budi bekerja di konter pulsa selama menganggur. Hingga akhirnya, ia secara tidak sengaja menemukan ide untuk membuat anyaman atap berbahan ilalang kering.
Awalnya ide membuat anyaman atap berbahan ilalang bukan bertujuan untuk mencari uang. Budi bersama beberapa temannya kala itu memiliki ide untuk memugar makam Mbah Semi di Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri. Mbah Semi dikenal sebagai tokoh penari gandrung perempuan pertama di Banyuwangi.
Setelah pemugaran makam rampung, Budi lantas punya ide untuk memproduksi anyaman atap ilalang untuk dijual. Apalagi tren kafe, resto, dan homestay tradisional tengah menjamur di Banyuwangi.
“Akhirnya kami tawarkan ke beberapa pengusaha kafe dan ternyata mereka tertarik. Saat itu tahun 2019,” lanjut Budi.
Tak disangka, minat terhadap atap anyaman ilalang cukup tinggi. Tak berselang lama, Budi menerima order cukup banyak dari salah satu cafe dan homestay di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah.
“Saat itu dapat pesanan terbanyak pertama, sekitar enam ribu lembar,” tuturnya.
Akhirnya, Budi mengajak belasan warga sekitar tempat tinggalnya untuk bekerja. Hingga saat ini, sebanyak 15 warga ikut bekerja bersama Budi untuk membuat kerajinan tersebut.
Lambat laun, pesanan anyaman atap ilalang terus berdatangan. Baik dari Banyuwangi maupun luar kota, mulai dari Jember, Surabaya, hingga Bali. Bahkan, Budi sempat mendapat tawaran dari pembeli untuk dikirim ke luar negeri.
“Tapi saya belum bisa menyanggupi karena keterbatasan bahan baku,” ungkapnya.
Ilalang memang terbilang rumput liar yang banyak tak termanfaatkan. Namun ternyata, Budi sempat mengalami kesulitan untuk menemukan tumbuhan tersebut. Terutama saat musim kemarau.
Seiring bergulirnya waktu, Budi mulai menemukan trik agar bisa berproduksi sepanjang waktu. Dia menyetok sebanyak mungkin ilalang saat musim hujan. Tak sanggup untuk mencari sendiri, ia mengajak warga untuk mencari rumput di tempat-tempat ilalang tumbuh.
“Sekarang ilalang banyak ditemukan di lahan kosong daerah-daerah perumahan. Kami beli dari pencari rumput,” ujar Budi.
Budi menjual anyaman atap ilalang buatannya yang berukuran sekitar 2,5 meter x 1,5 meter seharga Rp 15 ribu per lembar. Harga bisa lebih murah apabila pembeli memesan dalam jumlah banyak.
Sementara itu Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebut ide bisnis yang dijalankan Budi cukup menarik. Apalagi, menggeliatnya pariwisata Banyuwangi menjadi payung besar untuk menumbuhkan sektor ekonomi turunan lainnya.
“Ini ide yang kreatif. Bersamaan dengan pariwisata Banyuwangi yang terus berkembang, pasar dari anyaman atap ilalang ini sangat menjanjikan,” tutur Ipuk. (rin/ted)






