Surabaya – Di sudut jalan Kalikepiting No.111 Pasar Kembang, Surabaya, sebuah masjid kecil bernama Masjid Pemuda Indonesia menjadi saksi perjuangan melawan kelaparan dan keputusasaan. Di tengah keterbatasan, mereka membuktikan bahwa kebaikan tak mengenal batas.
Setiap hari, lebih dari 250 porsi makanan hangat dibagikan gratis kepada siapa saja yang membutuhkan tanpa memandang agama, status ataupun latar belakang melalui program Warung Makan Gratis.
Berawal di tahun 2020, saat pandemi Covid-19 melanda. Lockdown memukul keras perekonomian warga, banyak masyarakat kehilangan pekerjaan bahkan kesulitan makan.
Melihat keresahan itu, Masjid Pemuda Indonesia tergerak untuk bertindak. Dengan dana terbatas, mereka memulai Sedekah Hari Jumat, membagikan 5-10 porsi makanan setiap pekan.
Namun, kebutuhan semakin besar. Banyak masyarakat datang dengan perut kosong dan berbagai kesulitan.
“Banyak warga kelaparan hingga hampir putus asa, mendorong inisiatif kami ini berkembang menjadi program harian melalui Warung Makan Gratis,” kenang Zakaria, salah satu pengurus Masjid Pemuda Indonesia.
Tak ingin berhenti di situ, pengurus masjid bahkan rela mengorbankan harta pribadi. “Pengasuh masjid sampai jual mobil demi mendanai program ini,” tutur Zakaria.
Pengorbanan itu menjadi awal dari Warung Makan Gratis, yang perlahan berkembang dari sekedar aksi kecil menjadi program harian.
Setiap harinya, sebelum matahari terbit, Bu Susi bersama ketiga perempuan tangguh lainnya sudah sibuk di dapur kecil masjid. Panasnya api kompor tak menyurutkan semangat mereka. “Capek itu pasti, tapi kami tak tega melihat orang datang jauh-jauh kesini dalam keadaan lapar”. ujar Bu Susi.
Tak selalu mulus, perjalanan mereka pernah diuji saat dapur tiba-tiba terbakar. “Api tiba-tiba muncul di atas tabung gas, kami semua lari keluar,” kenangnya. Namun alih-alih menyerah, mereka membeli makanan dari pedagang kaki lima agar program tetap berjalan. “Yang penting tidak ada yang pulang dengan perut kosong,” imbuhnya dengan senyum lelah.
Bukan hanya soal berbagi makanan, para relawan masjid juga belajar menghadapi berbagai karakter masyarakat. Ifam, relawan muda berbagi pengalamannya. “Waktu itu ada salah satu jamaah yang ngompol di pagar”, ujarnya tersenyum maklum.
Zakaria juga kerap kali mengalami hal serupa. “Ada yang sembunyi-sembunyi membuang makanan yang kami beri. Di sisi lain ada dua ibu sepuh dari Kedung Tarukan, satu rabun dan satu buta rela jalan kaki ke sini demi makan. Itu buat sangat terharu,” ceritanya.
Salah satu wajah yang hampir setiap hari terlihat di Warung Makan Gratis adalah Pak Ferry, seorang driver ojek online. Ia rutin datang bersama keluarga karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Saya non-muslim, saya setiap hari makan disini bersama keluarga karena gaji yang gak cukup dari narik ojek,” ujarnya lirih.
Bagi Masjid Pemuda Indonesia, Warung Makan Gratis bukan sekedar tempat mengisi perut. Di sini, setiap senyuman dan telinga yang mendengar menjadi pelipur lara. Musfir, salah satu pengurus mengenang seorang mahasiswa perantau yang hidup hanya dari mie instan setelah ayahnya meninggal. “Kisahnya kami bagikan di media sosial, dan banyak yang tergerak untuk membantu,” ujarnya.
Tak hanya itu, pernah ada keluarga non muslim yang hidup tanpa listrik selama empat bulan. Setelah kisahnya dibagikan melalui sosial media, bantuan berdatangan hingga listrik kembali menyala. “Di sini kami tak pernah tanya KTP atau agama, siapapun yang membutuhkan dipersilahkan untuk datang,” ungkap Mufrih.
Bantuan dari ribuan orang-orang baik terus berdatangan melalui kisah-kisah yang dibagikan di sosial media. Perlahan tapi pasti, Warung Makin Gratis terus berkembang menjadi ruang hangat dan layak bagi siapa saja yang membutuhkan. “Dulu Warung Makan Gratis tanpa kipas, bangku, dispenser, bahkan hanya beratapkan kanopi pendek. Suasana panas dan tempat yang seadanya, semua sangat sederhana dari apa yang kami punya saat itu,” ujar Mufrih.
Aksi kecil ini menjadi inspirasi bagi tujuh masjid lainnya di Surabaya yang kini mengadakan program serupa. Reyhan, salah satu relawan muda berharap agar gerakan ini bisa merambah ke seluruh Indonesia. “Karena yang butuh makanan bukan hanya di Surabaya saja,” ucapnya penuh harap.
Di tengah keterbatasan, Masjid Pemuda Indonesia membuktikan bahwa berbagi tak harus menunggu berkecukupan. Dengan semangat ikhlas, mereka mengubah keterbatasan menjadi berkat. “Sudahkah sedekah senyum hari ini?” kalimat sederhana yang menjadi nyawa perjuangan mereka. Sebab terkadang yang paling dibutuhkan manusia bukan hanya makanan, melainkan kehangatan dan perhatian yang tulus.
Penulis : Marieta Vina Puspitasari
Mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya






