Lebih dari dua bulan terakhir harga beras mengalami kenaikan tinggi di pasar Indonesia. Realitas sosial ekonomi yang sangat memberatkan rakyat. Maklum, lebih dari 98,35 persen rumah tangga di Indonesia mengonsumsi beras. Rata-rata tingkat konsumsi beras rakyat Indonesia mencapai 0,222 kilogram per kapita per hari. Di level regional Asia, beras juga jadi menu wajib untuk pemenuhan kebutuhan kalori bagi sekitar 80 persen warga Benua Asia.

Lalu, sampai kapan harga beras yang mahal itu terus bertahan? Tak mudah menjawab pertanyaan ini. Ada faktor nasional dan global yang mempengaruhi dan saling berkelindan dalam konteks ini. Maklum, beras merupakan komoditas pangan penting dan strategis bagi sebagian besar warga Benua Asia lantaran 90 persen dari mereka mengonsumsi beras.
Karena itu, beras merupakan komoditas unik di pasar internasional. Sebagian besar komoditas beras diproduksi dan dikonsumsi di negara-negara kawasan Benua Asia. Beras jadi tanaman pangan paling penting di dunia yang nilai strategisnya melebihi kentang, jagung, gandum, dan serealia lainnya. Secara faktual, beras sebagai tanaman pangan pokok (staple food) bagi sekitar 3 miliar penduduk dunia atau hampir separuh warga dunia.
Realitas tersebut yang menempatkan beras sebagai komoditas strategis dalam ruang lingkup global maupun nasional. Bicara tentang beras bukan sekadar bahasan dalam perspektif pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. Beras menyangkut hajat hidup dan mata pencaharian ratusan juta penduduk dunia, terutama yang berdiam di Benua Asia, seperti China, India, Bangladesh, Vietnam, Thailand, Indonesia, Myanmar, dan banyak negara lain.
Bagi negara pengekspor beras seperti Vietnam, Thailand, China, dan India (di saat-saat tertentu), beras juga menjadi sumber devisa dan gantungan hidup sebagian besar masyarakat dunia yang bergerak di sektor pertanian. Sejak rentang 1997-2001 dan bisa jadi hingga sekarang, terjadi ketidakseimbangan antara tingkat produksi dan besaran permintaan konsumsi beras.
Pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, secara global, pertumbuhan produksi beras rata-rata mencapai 1,39 persen per tahun. Sedang tingkat pertumbuhan konsumsi beras secara global mencapai 1,55 persen per tahun atau 6,3 juta ton per tahun.
Sekiranya gambaran pola produksi dan konsumsi beras dunia itu bergerak konstan seperti di atas, tak heran dalam konteks kekinian terjadi kekurangan pasokan beras di pasar global. Sehingga mendorong kenaikan harga dan kadang terjadi kelangkaan beras, seperti di Indonesia akhir-akhir ini.
Indonesia dan Bangladesh
Sejumlah negara di Benua Asia menjadi produsen beras dalam volume besar, seperti China, India, Indonesia, Thailand, Vietnam, Myanmar, dan negara-negara lainnya. China dan India adalah dua negara besar yang tingkat produksi berasnya juga besar, sekalipun wilayah kedua negara itu ada yang beriklim tropis dan subtropis.
Warga di kedua negara tak tak menempatkan besar sebagai satu-satunya makanan pokok. Warga India dan China biasa mengonsumsi gandum dan produk olahannya sebagai sumber makanan pokok dan kalori mereka. Karena itu, tingkat konsumsi beras per kapita per tahun warga China dan India itu lebih rendah dibanding Indonesia dan Bangladesh. Padahal, tingkat produksi padi per hektare di China bisa mencapai 6,23 ton. Bandingkan dengan Indonesia yang tingkat produksi padi sebesar 4,43 ton per hektare dan India dengan 3,01 ton per hektare.
Secara empirik, Indonesia dan Bangladesh adalah dua negara di Benua Asia dengan tingkat konsumsi beras terbesar di dunia. Sekitar 22 persen produk dan pasar beras internasional diimpor dan untuk memenuhi kebutuhan pangan warga kedua negara tersebut. Data tahun 2015 memperlihatkan, Thailand dan Vietnam jadi negara dengan pemasok beras terbesar ke pasar global mencapai sekitar 16,2 juta ton. Jumlah tersebut setara dengan 50 persen dari rantai pasokan besar di pasar global yang mencapai 32,81 juta ton. (Khudori, 2008)
Data 2023 menunjukkan, tingkat produksi beras giling (milled rice) Indonesia tercatat sebesar 34 juta metrik ton atau turun 1,2 persen dibanding 2022 (year-on-year/yoy) sekaligus menjadi rekor terendah dalam empat tahun terakhir. Sedangkan tingkat konsumsi pada tahun yang sama mengalami kenaikan sebesar 1,1 persen (yoy) menjadi 35,7 juta metrik ton. Di sini terjadi kekurangan pasokan kebutuhan beras ke pasar sekitar 1,7 juta ton.
Tingkat kekurangan pasokan beras di 2023 sebesar 1,7 juta ton itu merupakan angka tertinggi selama empat tahun terakhir. Di tahun 2020, defisit beras nasional sebesar 1,3 juta metrik ton, tahun 2021 defisit 900 ribu metrik ton, dan tahun 2022 defisit sebesar 900 ribu metrik ton.
Tak menutup kemungkinan di 2024 ini, defisit pasokan beras ke pasar makin melebar seiring dengan agenda perhelatan kontestasi politik Pileg dan Pilpres 2024. Sebab, volume beras yang dialokasikan untuk bantuan sosial (bansos) oleh pemerintah dan politikus partai makin tinggi. Sehingga hal itu mempengaruhi titik keseimbangan pasokan dengan permintaan beras di pasar nasional. Di samping itu, banyak faktor lain yang bisa mempengaruhi keseimbangan pasar beras nasional, satu di antaranya perubahan kondisi iklim.
Mengharapkan pemenuhan kekurangan pasokan beras di pasar nasional dengan policy impor dari pasar internasional, dari negara-negara produsen beras dunia seperti China, India, Thailand, dan Vietnam bukan perkara mudah. Sekalipun beras ini merupakan komoditas yang diusahakan sekitar 22,7 persen dari seluruh lahan pertanian di level global dan ditanam di 122 negara.
Tingkat produksi beras tak bisa dilakukan secara kilat, bim salabim. Sebab, dari 122 negara yang memiliki lahan pertanian dengan tanaman beras (padi), sebagian besar di antaranya adalah negara berkembang seperti Indonesia, Vietnam, Kamboja, dan negara lainnya. Faktor lainnya, manajemen pengolahan tanaman padi sangat bergantung pada iklim (musim) terutama musim hujan, diusahakan dengan lahan tak luas, bersifat padat karya dengan jutaan petani yang hidup di pedesaan, kepemilikan modal terbatas dan bersifat pribadi, serta kapasitas teknis dan pengetahuan petani umumnya terbatas.
Karena itu, ikhtiar meningkatkan produksi beras dan efisiensi usaha pertanian sangat tergantung pada komitmen dan pemihakan politik pemerintah. Itu faktor pokok, utama, dan bersifat strategis. Selain tentu pada faktor pengembangan inovasi teknologi yang dilakukan kalangan akademisi perguruan tinggi yang di-support penuh pemerintah–terutama dalam aspek anggaran, perlindungan hak paten atas temuan baru bidang pertanian, dan aspek lainnya.
Konversi lahan pertanian untuk kepentingan sektor industri, properti, infrastruktur publik, dan sektor lain adalah determinan lain yang mengakibatkan makin menyempitnya luasan lahan pertanian di Indonesia. Sehingga ujung-ujungnya mengakibatkan penurunan produksi padi dan beras di Indonesia.
Data 2023 menunjukkan luasan panen padi diperkirakan sebesar 10,20 juta hektare dengan produksi padi sekitar 53,63 juta ton gabah kering giling (GKG). Jika dikonversikan jadi beras untuk konsumsi pangan rakyat, produksi beras pada 2023 diperkirakan sebesar 30,90 juta ton.
Volume luasan panen padi 2023 itu menyusut sekitar 255,79 ribu hektare dibandingkan 2022 yang mencapai 10,45 juta hektare. Akibatnya, produksi padi pada 2023 diperkirakan 53,63 juta ton GKG atau turun sebanyak 1,12 juta ton GKG atau 2,05 persen dibanding produksi padi di 2022 yang sebesar 54,75 juta ton GKG.
Dari perspektif peta global dan nasional, ketidakseimbangan pasokan dengan permintaan beras di pasar telah berlangsung lebih dari 20 tahun lalu, sejak akhir tahun 1990-an dan awal 2000-an. Pertumbuhan demografi yang cukup tinggi di banyak negara berpenduduk padat seperti China, India, Bangladesh, Indonesia, dan banyak negara lain adalah faktor utama lonjakan permintaan besar.
Di samping itu, pola konsumsi rakyat di banyak negara berkembang, seperti Indonesia, menempatkan beras sebagai sumber utama kalori warganya. Tesis yang kemudian muncul adalah semakin rendah pendapatan per kapita warga di negara berkembang mana pun termasuk Indonesia, maka persentase alokasi belanja mereka atas beras makin tinggi. Sebesar apapun kenaikan harga beras, dipastikan memukul sendi-sendi rumah tangga domestik mereka sehingga mereka rentan jatuh ke bawah garis kemiskinan dan mengakselerasi kenaikan inflasi nasional.
Harga beras per September 2021 rata-rata hanya dibanderol Rp11.650 per kilogram dan pada Oktober 2023 mencapai Rp14.400 per kilogram. Dalam tempo dua tahun terjadi kenaikan harga sebesar 23,6 persen. Memasuki semester pertama 2024 ini, lonjakan harga beras terus berlangsung. Belum bisa dikendalikan ke tingkat harga wajar yang bisa dijangkau warga berpendapatan rendah. Tak ada yang tahu sampai kapan harga beras ini berhenti naik.
Yang pasti, perut rakyat tak bisa dihentikan untuk tidak mengonsumsi beras dan diganti dengan komoditas pangan lain. Bagi rakyat Indonesia: Belum makan kalau belum makan nasi.
Ainur Rohim,
Direktur Utama dan Penanggung Jawab beritajatim.com






