Banyuwangi (beritajatim.com) – Sejak kenaikan harga beras khususnya di Banyuwangi memaksa Umi berhenti berdagang ayam geprek. Kondisi itu bermula sekitar 2 bulan terakhir.
Umi, yang mengawali usaha kuliner rumahan sekarang tutup alias gulung tikar. Dia mengaku cukup berat melanjutkan usaha karena harga bahan pokok semakin mencekik.
Tak mau mengambil risiko, warga Kali Lo, Kecamatan Banyuwangi ini memutuskan untuk menutup bedak usahanya rapat-rapat.
“Dulu beras masih murah, usaha kecil seperti saya masih bisa jalan. Usaha ayam geprek kan juga pakai nasi, tapi beras sekarang mahal. Sudah tutup dua bulan,” katanya saat ditemui saat Operasi Pasar beras SPHP dari Bulog cabang Banyuwangi di sekitar Pasar Banyuwangi, Kamis (22/2/2024).
Selain ayam geprek, Umi sebenarnya juga punya usaha makanan lain yakni rujak soto dan pecel rawon. Dua usaha itu juga terpaksa tutup.
“Bukan ayam geprek saja, tapi juga usaha makanan saya yang lain juga tutup,” ujarnya.
Selain beras mahal, kebutuhan lain juga menjadi penyebab domino usahanya. Misal, cabai rawit, minyak goreng, ayam dan beberapa kebutuhan di dapurnya.
“Kemarin itu kan apa-apa mahal, jadi tidak cukup untuk memutar usaha. Jika pun ada tinggal capeknya saja,” ungkapnya.
Beruntung, Umi masih punya usaha lain untuk menopang ekonomi keluarganya. Kini, dirinya jualan kerupuk rambak sekaligus menjadi kurir dan salesnya.
“Sebelum dagang makanan, saya sudah punya usaha jualan kerupuk rambak. Jadi ya sementara jalan usaha satu itu,” terangnya.
Dirinya hanya berharap agar kondisi sejumlah harga kebutuhan khususnya beras bisa kembali turun dan normal. Sehingga, dirinya dan warga lain bisa memutar roda ekonominya kembali. [rin/beq]






