Jombang (beritajatim.com) – Petani di Jombang yang tergabung dalam 10 Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) membentuk korporasi yang diberi nama Koperasi Multi Pihak Sarana Agro Lestari (Santri). Mereka memproduksi beras beragam kualitas dengan merk ‘Jatim Cettar’.
Selanjutnya, beras yang dibeli dari petani tersebut dipasarkan. Untuk awalan, dijual melalui PT Jatim Grha Utama (JGU) maupun pasar ritel dan pasar rakyat. Soft launching pemberangkatan itu dilakukan pada Selasa (14/5/2024) oleh Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono.
“Saya juga setor ke Bulog. Tapi ke JGU mulai hari ini sebanyak 5,4 ton. Total yang sudah kita produksi kisaran 220 ton pada tahun 2024 ini. Jenisnya premium harganya Rp12.800 per kg, sedangkan jenis medium Rp11.800. Lalu ke Bulog Rp11.000 per kg. Itu sudah sampai lokasi,” kata Hudi, Ketua Koperasi Multi Pihak Sarana Agro Lestari.
Hudi menjelaskan, koperasi tersebut dibentuk dari 10 Gapoktan dari 10 kecamatan. Di antaranya Kecamatan Megaluh, Kesamben, Mojowarno, Tembelang, dan beberapa kecamatan lainnya. Koperasi ini memiliki mesin penggilingan padi yang berada di Desa Pojokkulon.
Dari lokasi itu pula beras ‘Jatim Cettar’ diberangkatkan. “Kami membeli gabah langsung dari petani. Semisal Harga di pasaran gabah Rp6.000 per Kg, kami membelinya Rp6.100 per Kg. Lalu kita giling menjadi beras,” ujar Hudi yang juga Ketua Gapoktan Pojokkulon Kecamatan Kesamben.
Tentu saja, apa yang dilakukan oleh 10 Gapoktan di Kabupaten Jombang tersebut mendapat apresiasi dari Pj Gubernur Jatim Adhy Karyono. Program Korporasi Petani, kata Adhy, merupakan best practice Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk meningkatkan kesejahteraan petani, ketahanan pangan, dan pengendalian inflasi.
“Alhamdulillah hari ini cita-cita kita untuk mewujudkan kedaulatan pangan lewat Korporasi Petani makin dekat. Korporasi ini merupakan pilot-project pertama di Indonesia, dan merupakan best practice Jatim untuk mengendalikan inflasi. Dari Jombang untuk Jawa Timur, Jawa Timur untuk Indonesia, dan Indonesia untuk dunia,” ungkapnya.
Lebih lanjut ia menyebutkan, di Jatim ada Korporasi Petani dengan bentuk lembaga Koperasi Multi Pihak yang mayoritas dimiliki oleh petani yang tergabung dalam 10 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).

Tidak hanya itu, ia juga menyebutkan, Pemprov Jatim memberikan dukungan pada Korporasi Petani mulai dari akses pembiayaan hingga pemasaran produk. Salah satu produk tersebut adalah merk kolektif Jatim Cettar yang telah disiapkan oleh Pemprov Jatim untuk menguatkan branding dari beras asal Jawa Timur.
Adhy pun meninjau langsung stok serta pengolahan Beras Jatim Cettar di Gapoktan Pojok Kulon, Kesamben, dan Gudang 3A Perak, Jombang.
Dijelaskannya, dalam proses ini korporasi akan membeli gabah petani dengan harga pasar secara tunai. Kemudian, avalis atau investor korporasi petani akan menggunakan Sistem Resi Gudang untuk mendapat pembiayaan dari PT Kliring Perdagangan Berjangka Indonesia (KPBI) yang tengah dalam proses bekerjasama dengan Bank Jatim.
Selanjutnya, gabah diolah menggunakan Rice Milling Unit (RMU) menjadi beras premium dan medium yang akan dijual ke pasar melalui PT Jatim Grha Utama maupun pasar ritel dan pasar rakyat.

Ia mencontohkan, dalam proses pengolahan beras Jatim Cettar ini, tanam, petik, olah, kemas, jual beras dilakukan secara mandiri oleh Koperasi Multi Pihak Sarana Agro Lestari (Santri) sebagai pilot project di Jombang.
Usai Soft Launching, Adhy memberangkatkan perdana Beras Jatim Cettar seberat 5,4 ton. Pemberangkatan ditandai dengan penyerahan sertifikat merk kolektif Jatim Cettar dari Perwakilan Kanwil Kemenkumham Jatim serta pemecahan kendi oleh Adhy. Beras tersebut dikirim dari dari Korporasi Petani Santri ke PT. Jatim Grha Utama (BUMD Jatim).
“Semoga beras kebanggaan Jatim ini bisa mewarnai ritel-ritel dan memasok kebutuhan pangan di Indonesia Timur. Semoga selain beras Jatim bisa juga merambah ke minyak, kakao, dan banyak sektor lainnya,” katanya. [suf]






