Bogor (beritajatim.com) – Peningkatan emisi karbon dioksida (CO2) telah menjadi ancaman nyata terhadap keseimbangan iklim global dari sejumlah industri baik di sektor semen, listrik dan migas.
Teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) kini muncul sebagai inovasi terbaru yang menawarkan solusi konkret untuk menurunkan emisi karbon secara signifikan.
Apa Itu Carbon Capture and Storage (CCS)? CCS adalah proses penangkapan CO2 dari sumber emisi seperti pembangkit listrik berbahan bakar fosil, pabrik baja, dan produksi gas alam.
Setelah ditangkap, CO2 kemudian dikompresi dan diangkut ke lokasi penyimpanan yang aman, seperti formasi geologi di bawah tanah.
Sementara itu Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) adalah pengembangan dari CCS yang mencakup pemanfaatan CO2 yang telah ditangkap kemudian menyimpannya di bawah tanah.
“Langkah pemanfaatan ini melibatkan pengubahan CO2 menjadi produk atau material yang bermanfaat, seperti bahan bakar sintetis, bahan kimia, material bangunan, atau untuk peningkatan produksi minyak (Enhanced Oil Recovery/EOR),” kata Alexander Ginting, Managing Editor Petromindo.com dalam Workshop on Understanding Carbon Capture and Storage (CCS).
Alexander ginting menambahkan CCS berfokus hanya pada penangkapan dan penyimpanan CO2 di bawah tanah untuk mengurangi emisi. Sedangkan CCUS Menambahkan langkah pemanfaatan, dengan tujuan mengubah CO2 menjadi sumber daya ekonomi sebelum atau sebagai tambahan dari penyimpanan.
“CCS Digunakan untuk mencapai target pengurangan emisi dengan mencegah CO2 masuk ke atmosfer (penting untuk industri dengan emisi sulit dikurangi seperti produksi semen dan baja),” tambah Alex.
Sedangkan CCUS memberikan insentif ekonomi untuk menangkap CO2 melalui produk dan dapat dipasarkan serta dapat menutupi sebagian biaya proses penangkapan.
Mengapa industri Membutuhkan CCS dan CCUS?
Industri membutuhkan CCS dan CCUS untuk menghadapi perubahan iklim, meningkatkan keberlanjutan, dan mematuhi peraturan sambil mempertahankan pertumbuhan ekonomi.
“Teknologi CCS dan CCUS menjawab tantangan ganda yaitu mengurangi emisi sambil menjaga produktivitas dan pertumbuhan industri,” kata Alex.
Teknologi ini menjadi alat penting dalam upaya global melawan perubahan iklim, terutama di sektor-sektor yang sulit digantikan oleh energi terbarukan.
“Dengan mengadopsi CCS dan CCUS, industri dapat mencapai keberlanjutan, kepatuhan peraturan, dan daya saing jangka panjang di ekonomi rendah karbon,” tambah Alexander Ginting.
Penerapan CCS di Indonesia
Indonesia telah mengambil langkah besar dalam mendukung pengembangan CCS. Regulasi seperti Perpres No. 14 Tahun 2024 menjadi landasan penting dalam implementasi teknologi ini. Dengan potensi penyimpanan karbon mencapai 577,62 gigaton, Indonesia berpeluang menjadi pemain utama dalam mitigasi perubahan iklim di kawasan Asia.
Beberapa proyek CCS yang telah disetujui di Indonesia meliputi: Tangguh EGR/CCUS di Papua, Abadi CCS
Sakakemang CCS
Proyek ini sebagian besar dikelola oleh Pertamina bersama mitra internasional seperti ExxonMobil dan Chevron.
Keunggulan Teknologi CCS
Dekarbonisasi Industri Berat dengan CCS membantu industri semen, baja, dan kimia yang sulit dialiri energi listrik untuk mengurangi emisi karbon. Teknologi ini dapat diterapkan pada pembangkit listrik berbahan bakar fosil untuk menghasilkan energi bersih.
Tantangan Pengembangan CCS
Meski menjanjikan, teknologi CCS menghadapi berbagai tantangan, seperti biaya tinggi untuk proses penangkapan CO2 dan kebutuhan pengawasan ketat untuk memastikan keamanan penyimpanan karbon. Dukungan regulasi dan insentif investasi diperlukan untuk mendorong adopsi yang lebih luas.
Sebagai salah satu negara yang meratifikasi Perjanjian Paris, Indonesia berkomitmen mencapai net zero emissions pada tahun 2060.
Pengembangan teknologi CCS menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi ini, membuka peluang investasi sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari penurunan emisi karbon.
“Dengan semakin berkembangnya teknologi CCS, masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan bukan lagi sekadar mimpi. Indonesia, dengan potensi besar yang dimilikinya, siap menjadi pusat inovasi karbon dunia,”kata Alexander Ginting.

PLN Dorong Roadmap Jangka Panjang
PT PLN (Persero) telah menetapkan peta jalan (roadmap) jangka panjang untuk pengembangan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS).
“Selain itu, PLN juga aktif menjalin kemitraan untuk studi bersama terkait penerapan teknologi ini guna mendukung transisi energi berkelanjutan di Indonesia,” kata Chairani Rachmatullah President Director PLN Enjiniring.
PLN merencanakan penerapan CCUS retrofit pertama pada tahun 2035. Teknologi ini akan diterapkan secara bertahap pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara.
Kapasitas pembangkit listrik batu bara dan penerapan CCUS diproyeksikan berdasarkan skenario Net Zero Emission (NZE) 2060.
Rencana kapasitas menunjukkan penurunan signifikan dalam penggunaan batu bara dari tahun 2020 hingga 2060, diiringi dengan penerapan CCS retrofit untuk meningkatkan efisiensi dan menekan emisi karbon. Beberapa pembangkit juga direncanakan untuk dinonaktifkan (mothball).
Kemitraan Strategis untuk Pengembangan CCUS
Hingga saat ini, PLN telah menjalin empat kemitraan strategis dengan berbagai perusahaan energi dan listrik untuk mendukung pengembangan CCUS. Beberapa mitra tersebut meliputi:
INPEX – untuk proyek di PLTU Tanjung Jati B (4×660 MW).
Toshiba – berkontribusi pada proyek PLTU Paiton (2×400 MW).
JGC dan Jera Energy – bekerja sama di PLTU Indramayu (3×300 MW).
Karbon CCS Ltd. dan Karbon Korea Co., Ltd. – Mendukung pengembangan CCUS di PLTU Suralaya (4×400 MW)
Implementasi CCUS ini merupakan bagian dari komitmen PLN untuk mencapai target NZE 2060. Teknologi ini diharapkan dapat mengurangi emisi karbon dari sektor pembangkitan listrik yang berbasis fosil.
“Dengan roadmap yang jelas dan kolaborasi strategis, PLN berupaya menjadi pelopor dalam transisi energi bersih di Indonesia,” tambah Chairani.
Langkah ini menjadi bukti nyata upaya PLN untuk menghadirkan solusi inovatif dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus memastikan pasokan energi yang berkelanjutan.
CCS akan memainkan peran penting dalam dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan di Indonesia, dengan kapasitas ~2 GW direncanakan pada tahun 2040 dan ~19 GW kapasitas terpasang yang ditargetkan pada tahun 2060.
Potensi dan Target Pengurangan Emisi CO2 dari Sektor Energi di Indonesia
Indonesia terus mendorong upaya pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) untuk mencapai target keberlanjutan.
Dalam sektor energi, berbagai proyek dan inisiatif telah dirancang guna menekan emisi karbon, sejalan dengan komitmen Indonesia terhadap pengurangan emisi global.
“Target Pengurangan Emisi GRK Sektor Energi 2010–2030, Indonesia menargetkan pengurangan emisi karbon dioksida (CO2) sebesar 314–398 juta ton (Mt) dalam kurun waktu 20 tahun, yaitu dari 2010 hingga 2030. Upaya ini mencakup berbagai proyek di bidang minyak, gas, dan batu bara yang berkontribusi signifikan terhadap total emisi negara,”kata Profesor Dr Mohammad Rachmat Sule Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB).
Berikut adalah gambaran potensi emisi dan pengurangan karbon dari proyek-proyek utama di sektor energi:
Ladang Minyak dan Gas
Gundih Field: Potensi injeksi karbon kumulatif sebesar 3 Mt dalam 10 tahun.
Tangguh Field: Potensi injeksi karbon kumulatif sebesar 25 Mt dalam 10 tahun.
Eastern Java: Memiliki potensi emisi karbon sebesar 35 Mt dalam 10 tahun dari ladang minyak dan gas utama.
Proyek Industri dan Gasifikasi Batu Bara
Pabrik Amonia di Banggai dan Kalimantan Timur: Potensi injeksi karbon kumulatif sebesar 30 Mt dalam 10 tahun. Proyek Gasifikasi Batu Bara Tanjung Enim (DME Project): Menghasilkan hampir 40 Mt CO₂ murni dalam 10 tahun. Tambahan 25 Mt CO₂ dari boiler, termasuk pengotor. Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara (PLTU)
“Total emisi CO₂ dari seluruh PLTU berbasis batu bara di Indonesia dengan kapasitas 35 GW (faktor kapasitas 80%) mencapai sekitar 250 Mt per tahun,” tambah Prof Sule.
Dari berbagai proyek yang direncanakan, potensi pengurangan emisi dalam 10 tahun mendatang mencapai 137 Mt CO2. Angka ini setara dengan 34–44% dari target pengurangan emisi GRK sektor energi pada 2010–2030.
Langkah Strategis Menuju Keberlanjutan
Proyek-proyek strategis seperti gasifikasi batu bara, injeksi karbon di ladang minyak dan gas, serta inisiatif energi bersih lainnya diharapkan mampu mempercepat pencapaian target emisi.
Dengan kolaborasi lintas sektor, Indonesia optimis dapat menjadi pemimpin dalam transisi energi bersih di kawasan.
Melalui langkah ini, pemerintah tidak hanya berupaya memenuhi komitmen internasional, tetapi juga menciptakan masa depan energi yang lebih hijau dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. (ted)






