Bondowoso (beritajatim.com) – Serapan anggaran RSUD dr Koesnadi Bondowoso pada Tahun Anggaran 2025 mencapai 89 persen. Meningkatnya belanja obat-obatan dan bahan medis habis pakai menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi realisasi anggaran rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Bondowoso tersebut.
Persoalan itu mengemuka dalam rapat kerja Komisi IV DPRD Bondowoso bersama manajemen RSUD dr Koesnadi saat membahas Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025, Jumat (10/7/2026).
Direktur RSUD dr Koesnadi Bondowoso, dr. Yus Priyatna, menjelaskan peningkatan belanja dilakukan untuk menjamin pelayanan kesehatan kepada masyarakat tetap berjalan optimal di tengah meningkatnya kebutuhan pasien.
Menurutnya, selain volume kebutuhan obat yang meningkat, harga obat juga mengalami kenaikan akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Kondisi tersebut diperparah dengan kenaikan harga bahan bakar minyak yang ikut mendorong biaya operasional rumah sakit.
“Kami memperbesar belanja karena ada peningkatan kebutuhan obat dan bahan habis pakai. Selain itu juga dipengaruhi kenaikan harga obat ketika nilai tukar dolar sempat menyentuh Rp18 ribu dan kenaikan harga BBM yang cukup besar,” ujar Yus.
Meski serapan anggaran tercatat 89 persen, Yus menilai kinerja pendapatan rumah sakit sebenarnya hampir memenuhi target. Dari target awal sebesar Rp163 miliar, realisasi pendapatan nyaris mencapai 100 persen.
Bahkan, apabila pembayaran klaim pelayanan dari BPJS Kesehatan tidak bergeser ke awal tahun berikutnya, pendapatan RSUD Koesnadi diperkirakan mencapai sekitar Rp175 miliar atau sekitar 96 persen dari target perubahan sebesar Rp182 miliar.
“BPJS memang baru melakukan pembayaran pada Januari 2026. Jadi kalau dihitung berdasarkan pelayanan yang sudah diberikan selama 2025, sebenarnya capaian pendapatan kami sekitar 96 persen. Hanya saja secara administrasi pembayarannya masuk pada tahun berikutnya,” jelasnya.
Dalam rapat tersebut, Komisi IV DPRD Bondowoso juga memberikan sejumlah catatan kepada manajemen rumah sakit. Salah satunya mendorong peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat melalui pemanfaatan optimal fasilitas kesehatan yang telah tersedia.
Yus mengatakan salah satu fasilitas yang kini kembali beroperasi adalah alat CT Scan setelah sebelumnya menjalani proses perbaikan.
Beroperasinya kembali alat tersebut diharapkan mampu mempercepat layanan diagnostik sekaligus mengurangi waktu tunggu pasien.
“Alhamdulillah CT Scan sudah diperbaiki. Sekarang tinggal bagaimana seluruh pelayanan terus kita tingkatkan kualitasnya,” katanya.
Ia juga memastikan ketersediaan obat dan bahan medis habis pakai hingga saat ini dalam kondisi aman. Bahkan, RSUD Koesnadi tidak memiliki tunggakan pembayaran kepada penyedia obat.
Sebagai tindak lanjut atas rekomendasi DPRD, rumah sakit akan melengkapi sejumlah peralatan medis pada 2026.
Salah satunya pengadaan alat katerisasi untuk layanan urologi agar pelayanan terhadap pasien semakin lengkap dan berkualitas.
“Salah satunya adalah penyediaan alat katerisasi untuk layanan urologi, sehingga kualitas pelayanan kepada masyarakat dapat terus meningkat sesuai kebutuhan pasien,” pungkas Yus. (awi/but)






