Banyuwangi (beritajatim.com) – Dalam suasana momen peringatan Hari Ibu, Lapas Banyuwangi menyediakan fasilitas khusus bagi warga binaan yang dikunjungi oleh ibunya untuk melakukan prosesi basuh kaki ibu.
Kegiatan ini menjadi ruang bagi para warga binaan untuk mengungkapkan rasa bakti yang selama ini terhalang oleh tembok tinggi Lapas.
Pantauan di lokasi menunjukkan suasana haru yang menyelimuti area kegiatan. Sambil bersimpuh dan membasuh kaki wanita yang telah melahirkannya, para warga binaan tampak terisak, memeluk erat sang ibu, dan memohon maaf yang mendalam atas kekhilafan yang pernah mereka perbuat.
Kalapas Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, mengatakan, kegiatan ini bukan sekadar seremonial belaka. Ia menyebut prosesi ini sengaja digelar agar warga binaan dapat mengambil makna mendalam dari peringatan Hari Ibu.
“Kami ingin memupuk kembali rasa kasih sayang dan hormat kepada ibu yang telah luar biasa berjuang merawat, membesarkan, dan mendidik mereka. Momen ini adalah pengingat bahwa sejauh mana pun mereka melangkah salah, doa ibu adalah jalan untuk pulang,” ujar Wayan.
Wayan mengaku bahwa momen ini dimanfaatkan sebagai bahan renungan bagi warga binaan agar mereka benar-benar menyesali perbuatan masa lalu yang menyebabkan mereka harus terpisah dari keluarga. Isak tangis yang pecah di kaki ibu diharapkan menjadi titik balik bagi mereka untuk berbenah diri.
“Tentu kami berharap agar mereka benar-benar menyesali perbuatannya dan memperbaiki perlaku selama masa pidana dengan mengikuti program pembinaan dengan baik,” ungkapnya.
ANP (30) salah seorang warga binaan mengungkapkan terimakasih kepada pihak Lapas yang telah mengingatkan akan makna Ibu dalam kehidupannya. Ia bertekad akan terus memperbaiki diri dan berbakti kepada kedua orang tuanya, khususnya ibu.
“Selama ini ibu selalu membawa harapan agar saya dapat mengambil hikmah dari apa yang terjadi. Terimakasih kepada para petugas yang selama ini memberikan pembinaan kepada saya untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” tandasnya. (ted)






