Surabaya (beritajatim.com) – Sekitar 60 persen suara pada Pemilu 2024 mendatang bakal didominasi oleh para pemilih muda, terutama Gen Z. Tentunya, para politikus akan saling berebut untuk mendapatkan suara mereka. Lalu, bagaimana pandangan Gen Z tentang sosok yang tepat untuk memimpin bangsa di masa depan ?
Beritajatim.com berkesempatan mewawancarai sejumlah mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya usai mereka memaparkan orasi terkait pemimpin masa depan di kampus setempat.
Rata-rata, mereka menginginkan sosok pemimpin masa depan yang mau mendengarkan suara atau pandangan dari rakyat. Mereka ingin terlibat dalam kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.
“Kita ini tipe orang yang lebih memprioritaskan perasaan. Menurut saya, pemimpin itu harus mampu mendengarkan pandangan rakyat, mengerti perasaan yang dimiliki gen Z,” kata Yovan Immanuel, mahasiswa UK Petra Surabaya, Kamis (14/12/2023).
Ia mengakui jika gen Z cukup mudah termakan oleh gimik-gimik politik. Seperti diketahui, masa kampanye Pemilu 2024 ini diwarnai dengan munculnya beragam gimik politik sebagai strategi memikat massa.
“Gen Z gampang termakan gimik politik. Tapi pesan saya, lebih baik gen Z melihat di balik gimik tersebut sebenarnya apa esensi yang ingin disampaikan. Jangan sampai kita kemakan gimik kosong,” katanya.
Yovan berharap, siapa yang terpilih nantinya menjadi pemimpin akan mampu melakukan pemerataan pembangunan di Indonesia. Ia menilai masih banyak kesenjangan yang terjadi di tengah masyarakat.
“Harapannya, Pemilu 2024 nanti terpiluh pemimpin yang bisa memprioritaskan apa yang rakyat inginkan. Pemimpin harus mampu melakukan pemerataan pembangunan,” ujar mahasiswa semester 5 tersebut.
Senada, Adeline Ellicia, salah seorang mahasiswa lainnya mengungkapkan jika pemimpin masa depan yang dibutuhkan oleh bangsa adalah mereka yang mampu mendengarkan opini rakyat.
“Jadi, bukan pemimpin yang cuma sekedar memimpin saja. Dia harus bisa merangkul, mengayomi, menjadi mentor, punya hati buat kita, membuat nyaman, dan open minded,” ungkap Adeline.
Ia juga menyoroti persoalan pendidikan di Indonesia. Menurutnya, di Indonesia, saat ini diperlukan adanya peningkatan kualitas pendidikan agar mampu berbicara banyak di level internasional.
Tak jauh berbeda, Natasya Nethania, mahasiswa Ilkom UK Petra Surabaya juga menyebutkan dalam orasinya bahwa sosok pemimpin yang baik adalah mereka yang mau mendengarkan serta memberikan hatinya kepada rakyat.
“Pemimpin di masa depan ya dia yang mau mendengarkan suara rakyat. Kemudian, sosok pemimpin masa depan tidak boleh tutup mata dengan kemajuan teknologi. Saat ini juga masih banyak diskriminasi, jadi penting banget mendapat perhatian,” katanya.
Di sisi lain, Dosen Pengampu Mata Kuliah Komunikasi Kepemimpinan UK Petra Dr Fanny Lesmana menjelaskan bahwa orasi ini dilakukan untuk mengetahui apa yang diharapkan gen Z terkait sosok pemimpin yang baik.
“Karena mereka juga calon pemimpin, dan yang akan menjalankan konsep kepemimpinan yang diharapkan itu ke depannya,” jelas Fanny.
Melalui kegiatan ini, Fanny berharap mahasiswa UK Petra Surabaya sebagai salah satu perwakilan gen Z bisa terlibat menjadi penggerak, agar anak muda lainnya dapat berpartisipasi pada pesta demokrasi 2024 mendatang. [ipl/kun]






