Bojonegoro (beritajatim.com) – Kondisi Pasar Banjarejo Kabupaten Bojonegoro yang sepi pembeli membuat sejumlah pedagang telat bayar sewa bedak. Pedagang yang nunggak bayar sewa, mengaku tidak bisa berjualan lantaran bedaknya digembok.
Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Banjarejo Hari Utomo mengatakan, kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro dalam hal ini Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro membuat pedagang resah. Pasalnya, pedagang yang telat bayar langsung digembok. “Ini tentu membuat sejumlah pedagang resah. Apalagi kondisi pasar sekarang sepi banget pengunjung,” ujarnya, Rabu (24/05/2023).
BACA JUGA:
https://beritajatim.com/ekbis/pedagang-pasar-banjarejo-bantah-ada-gratis-sewa-lapak-selama-2-tahun/
Pedagang pakaian di Pasar Banjarejo itu menjelaskan, saat ini kondisi pasar sangat sepi. Bahkan, pedagang yang menempati lantai dua sudah tidak ada lagi yang meneruskan sewa bedak. Sepinya pengunjung membuat penghasilan pedagang berkurang dan tidak mampu membayar sewa. “Pedagang merasa keberatan terkait pembayaran sewa sejak awal pindah, 2021. Karena setelah renovasi kondisinya semakin sepi,” katanya.
Hari sendiri mengaku telat bayar sewa tahun 2021-2022. Sehingga saat ini ia mengaku tidak bisa berjualan karena bedaknya digembok. Dia memiiliki bedak sebanyak empat bidang. Sewa pembayaran bedak di Pasar Banjarejo sebesar Rp 6.000 perhari. Sewa bedak itu naik, dari sebelumnya Rp2 .000 perhari.
Kenaikan harga sewa tersebut tidak ditambah dengan promosi yang menjadi janji Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Bojonegoro. Sehingga pengunjung sepi. “Dinas Perdagangan sebelumnya sudah berjanji akan melakukan promosi, tapi tidak pernah terealisasi,” pungkasnya.
Sementara Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Bojonegoro Sukaemi tidak merespon panggilan telepon maupun pesan melalui aplikasi whatsapp yang dikirim jurnalis beritajatim.com hingga berita ini ditulis. [lus/kun]






