Bondowoso (beritajatim.com) – Di balik sejuknya udara pegunungan Argopuro, tepatnya di Dusun Malar, Desa/Kecamatan Binakal, Kabupaten Bondowoso, ada aroma harum rempah yang menggoda dari sebuah dapur rumahan.
Dari sanalah, Nur Aini dan suaminya, Ariesta, menggulirkan harapan ekonomi keluarga melalui satu sajian khas: bebek kampung ungkep.
Sejak tahun 2023, Nur Aini mulai meracik resepnya sendiri. Terinspirasi dari kunjungan kulinernya ke Madura, ia mencoba membuat sajian bebek yang kaya rempah dan khas.
Hasilnya? Banyak pelanggan yang bilang rasanya mirip bebek Madura—padahal bebeknya asli Binakal, bukan dari luar desa.
“Awalnya saya coba-coba karena habis mencicipi bebek di Madura. Setelah saya racik sendiri, ternyata bisa, dan banyak yang cocok,” cerita Nur Aini.
Tak main-main, proses memasak bebek kampung ungkep ini memakan waktu hingga empat jam. Setelah dicuci bersih, bebek direbus selama 2-3 jam untuk menghilangkan bau amis dan melembutkan daging.
Setelah itu, bebek dimasak lagi dengan cara diungkep selama dua jam bersama sepuluh jenis rempah khas Binakal—yang jadi rahasia kelezatan utama.
Usaha ini tak lepas dari dukungan tokoh lokal. Pada tahun 2023, Camat Binakal saat itu, Eko Satrio, memberi dorongan besar. Ia tak hanya memotivasi, tapi juga memberi panggung dalam setiap kegiatan kecamatan.
“Setiap ada acara kecamatan, Pak Camat Eko pasti pesan bebek ungkep kami. Itu jadi awal usaha kami dikenal,” tutur Nur Aini.
Tak hanya Camat, Kasubbag Kecamatan Binakal, Hesty, pun mengaku jatuh hati pada rasa masakan Nur Aini. “Bumbunya meresap sampai ke dalam, dan dagingnya empuk. Ini beda,” ujarnya.
Syaiful, Sekcam Binakal, bahkan secara terang-terangan menjadikan bebek ungkep sebagai menu andalan di setiap event resmi kecamatan. “Harganya sangat terjangkau. Untuk rasa seperti itu, ini murah,” katanya.
Harga per porsi bebek ungkep dipatok Rp 30 ribu, sementara untuk satu ekor utuh dijual Rp 100 ribu. Dalam seminggu, pesanan bisa tembus hingga 20 ekor, baik dari pemesanan online maupun pembeli langsung.
Jenis bebek yang digunakan adalah bebek kampung asli Binakal—bukan hanya karena mudah didapat, tapi karena teksturnya yang khas dan rasanya yang lebih gurih dibanding ayam.
Nur Aini dan suaminya tak ingin berhenti di dapur kecil rumah mereka. Mereka bermimpi agar usaha ini bisa berkembang, memberi nilai tambah bukan hanya untuk keluarganya, tetapi juga para peternak bebek lokal.
“Pak Kades sebenarnya sudah lama mendukung dan menyediakan tempat. Tapi kami masih terkendala modal, jadi untuk sekarang masih usaha rumahan,” ujarnya lirih.
Bebek ungkep khas Binakal bukan sekadar kuliner. Ia adalah simbol perjuangan, sinergi warga dan pemerintah, serta wujud nyata bahwa potensi desa—dengan kekuatan rasa dan rempah—bisa menghidupi banyak pihak. (awi/ain)






