Bondowoso (beritajatim.com) – Pedagang sapi di Bondowoso menghadapi tantangan berat akibat anjloknya harga sapi lokal, yang diperparah oleh masuknya sapi impor dari Australia dan dampak penyakit mulut dan kuku (PMK).
Ketua Paguyuban Pedagang Sapi Bondowoso, Anis Sanjaya, mengungkapkan keluhannya terkait kondisi tersebut yang kian mempersulit kehidupan pedagang dan peternak.
Menurut Anis, penyebaran informasi terkait PMK melalui media sosial sering kali tidak akurat. Ia menyebut beberapa unggahan menggunakan foto-foto lama dari tahun 2022, yang dianggap memperburuk situasi pasar.
“Ya memang ada PMK, tapi tidak separah tahun lalu. Sayangnya, foto-foto lama diunggah lagi, dan itu merugikan kami,” ungkapnya kepada BeritaJatim.com, Kamis (9/1/2025).
Anis juga menyoroti kebijakan penyemprotan disinfektan di pasar hewan yang dilakukan saat aktivitas perdagangan berlangsung. Ia menilai hal ini mengganggu proses jual beli, bahkan membuat calon pembeli batal bertransaksi.
“Kalau mau disemprot, lakukan sebelum pasar dimulai atau sesudahnya. Kalau disemprot saat ada aktivitas, pembeli bisa lari, dan ini jelas merugikan pedagang,” saran Anis.
Selain itu, masuknya sapi impor dari Australia turut menekan harga sapi lokal. Anis menyebut harga sapi impor yang lebih murah, sekitar Rp 93 ribu per kilogram, menyebabkan harga sapi lokal anjlok drastis.
“Harga sapi lokal yang dulu Rp 110 ribu per kilogram, sekarang turun jadi Rp 97 ribu, bahkan Rp 93 ribu. Ini memengaruhi pendapatan pedagang dan peternak,” jelasnya.
Penurunan harga ini berdampak signifikan pada pendapatan pedagang. Sebelumnya, seorang pedagang bisa meraup omzet hingga Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per hari. Namun, kini mereka hanya mendapatkan Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu.
“Barang dari daerah seperti Madura, Surabaya, dan Krian Sidoarjo juga jarang masuk sekarang. Justru yang masuk adalah sapi impor,” keluh Anis.
Sebagai peternak dan pedagang, Anis menyebut bahwa harga jual sapi lokal saat ini tidak lagi mencukupi untuk menutupi biaya produksi, seperti pakan dan tenaga kerja.
“Harga aman minimal itu Rp 103 ribu per kilogram. Kalau di bawah itu, peternak pasti rugi,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menekan masuknya sapi impor dan memberikan perlindungan bagi peternak lokal. (awi/ted)






