Sumenep (beritajatim.com) – Kenaikan harga BBM bersubsidi diyakini berdampak pada berbagai sektor di masyarakat. Salah satu yang sangat merasakan dampak kenaikan harga BBM adalah kaum perempuan.
“Kami kaum perempuan paling sering bersentuhan dengan kebutuhan sehari-hari. Harga-harga pangan di pasar, kami yang tahu. Karena itu, kami paling merasakan dampak kenaikan harga BBM,” kata salah satu orator dalam aksi unjuk rasa PMII Sumenep, Nur Waida, Kamis (08/09/2022).
Sekitar 500 mahasiswa yang tergabung dalam PMII Sumenep berunjuk rasa ke DPRD setempat, Mereka menolak kenaikan harga BBM.
Sambil berorasi, para mahasiswa juga membentangkan poster2 bertuliskan protes. Diantaranya, ‘Tolak kenaikan harga BBM’, ‘Bapak kalau capek istirahat, jangan bikin rakyat melarat’, ‘Cabut kebijakan kenaikan harga BBM’.

Para mahasiswa PMII ini mendesak DPRD Sumenep untuk mengusulkan pencabutan kenaikan harga BBM. Selain itu, mahasiswa juga meminta agar pimpinan DPRD, pimpinan fraksi, dan seluruh anggota DPRD menandatangani deklarasi bersama menolak kenaikan harga BBM.
[berita-terkait number=”4″ tag=”demo-mahasiswa”]
“Untuk wakil rakyat kaum perempuan, ayo keluar. Temui kami. Tunjukkan keberpihakan kalian pada perempuan, pada masyarakat kecil yang semakin sulit hidupnya karena kenaikan harga BBM,” tandasnya.
Namun para mahasiswa agaknya harus kecewa karena tidak ada anggota DPRD perempuan yang keluar menemui mereka. [tem/but]






