Banyuwangi (beritajatim.com) – Kabupaten Banyuwangi memiliki identitas menjadi Tamansari Nusantara yang menjadi semangat kebersamaan, keberagaman dan prestasi.
Beragam suku, etnis, adat, agama dan budaya menyatu meneguhkan keberagaman yang turut berkontribusi dalam pembangunan daerah.
Ada adat Osing, Jawa, Madura, Bali, Bugis, Tionghoa hingga Arab. Kesemuanya telah merajut harmoni untuk membangun Banyuwangi.
“Banyuwangi terdiri dari berbagai suku, bangsa, etnis dan agama. Selama ini telah merajut harmoni, berkolaborasi dan bersinergi untuk membangun daerah kita tercinta ini,” ungkap Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Keragaman itu, imbuh Ipuk, merupakan realitas historis yang telah berkontribusi dalam membangun Banyuwangi selama 252 tahun terakhir. Hal itu, tercetus saat terjadi perang Puputan Bayu yang meletus pada 18 Desember 1771 yang diperingati sebagai momentum Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba).
Pada peristiwa itu, menjadi penanda terjadinya perang rakyat Blambangan yang kala itu sudah terdiri dari beragam suku dan etnis.
“Spirit kebersamaan yang telah dicontohkan oleh para pendahulu dan pejuang bumi Blambangan ini, merupakan suatu nilai yang patut kita teladani saat ini,” ungkap Ipuk.
Menurutnya, keberagaman ini menggambarkan pluralitas warga Banyuwangi.
“Ini sebagai penanda, bahwa Banyuwangi adalah daerah yang pluralitas. Terdiri dari aneka suku, agama, dan ras. Jika meminjam istilah dari Pak Andang dalam lagu Umbul-Umbul Blambangan yang telah menjadi identitas kita bersama, Banyuwangi adalah Tamansari Nusantara,” tegas Ipuk.
Lebih dari itu, kata Ipuk, capaian prestasi Banyuwangi menjadi bukti dari sebuah wujud keberagaman yang melahirkan kerukunan.
“Keberagaman ini melahirkan kerukunan, mewujud kolaborasi, menghasilkan Banyuwangi dengan segala capaian dan prestasinya,” imbuhnya.
Selain untuk meneguhkan keberagaman di Banyuwangi, Harjaba harus menjadi momentum untuk refleksi sekaligus memacu semangat baru.
“Kita telah menjadi trend bagi sejumlah daerah lain. Dalam pengelolaan pariwisata, pelayanan publik hingga birokrasi. Ini adalah prestasi yang harus melecut kita untuk terus berbenah. Momen Harjaba ini adalah saat yang tepat bagi kita semua untuk memperbarui semangat tersebut,” pungkasnya. (Rin/Aje)






