Surabaya (beritajatim.com) – Fenomena child-free beberapa waktu ke belakang banyak menjadi perbincangan masyarakat, termasuk di Indonesia. Bahkan, child-free banyak diterapkan di negara maju.
Child-free merupakan istilah yang mengacu pada konsep di mana pasangan yang sudah menikah memilih untuk tidak memiliki atau pun membesarkan anak. Mudahnya, mereka memutuskan untuk tidak memiliki keturunan.
Lalu bagaimana pandangan Islam tentang konsep child-free tersebut?
Pendakwah sekaligus penulis, Habib Husein Ja’far Al Hadar saat ditemui di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya mengatakan, jika merujuk pada Imam Ghazali, child-free itu diperkenankan dengan alasan-alasan tertentu.
“Child-free itu sesuatu yang diperkenankan kalau memang ada alasan yang membenarkannya. Misal ada masalah mental, medis, ada berbagai hal yang dibenarkan secara syariat,” kata Habib Ja’far, Minggu (4/8/2024).
Namun, Habib Ja’far menyarankan agar hal tersebut tidak menjadi sebuah pertimbangan secara subjektif. Perlu diingat bahwa sebagai bagian dari masyarakat sosial harus berada pada titik yang objektif.
“Saya sering bilangnya begini, kalau sekedar terserah kita, kita beruntung Nabi Adam itu nggak child-free. Kalau Nabi Adam child-free kita nggak lahir. Artinya, itu tidak seharusnya jadi pandangan pribadi kita, tapi jadi pandangan objektif,” terang Habib Ja’far.
Ia menambahkan, konsep banyak anak banyak rezeki juga tidak boleh digunakan sembarangan. Apalagi, misalnya orang tua itu sendiri tidak banyak memiliki kesiapan mulai finansial, mental, kesehatan atau pun sosial.
“Maka, sudah sepatutnya kita berada di tengah-tengah, sekiranya tepat dan pada akhirnya yang paling tahu adalah pasangan itu sendiri bagaimana memberikan pertimbangan yang objektif,” tandas Habib Ja’far.
Sekedar informasi, Kepala BKKBN RI Hasto Wardoyo dulu pernah mengatakan jika fenomena child-free dipicu adanya ketiadaan informasi yang cukup dan benar terkait pendidikan seksual dan reproduksi.
Pihaknya menilai child-free harus diperhatikan segmen dan komunitasnya. Sebab, ia melihat fenomena ini muncul pada masyarakat yang memiliki edukasi baik dan tinggal di perkotaan, yang memiliki ekonomi lebih maju.
Melansir dari sejumlah sumber, hasil Susenas 2022 menyebutkan bahwa persentase perempuan child-free di Indonesia ada sekitar 8 persen atau sebanyak 71 ribu orang.
Artinya, setidaknya ada 8 orang yang memilih untuk child-free dari 100 perempuan usia produktif yang pernah menikah namun belum pernah memiliki anak dan tidak sedang dalam program KB. [Ipl/but]






