Lamongan (beritajatim.com) – Imbas dari anjloknya harga rajungan, banyak pengusaha mini-plan atau penyuplai rajungan di kawasan pantura Lamongan yang tutup.
Akibatnya, hingga saat ini distribusi daging rajungan (meat crab) di sejumlah mini-plan itu pun banyak yang tersendat. Para eksportir seolah ogah untuk menyerap daging rajungan tersebut karena alasan lesunya pasar internasional.
Galih, salah satu pengusaha mini-plan rajungan di Kecamatan Paciran mengaku sudah tiga hari ini usahanya tak beroperasi. Sehingga, daging rajungan hasil kupasan di tempatnya pun masih melimpah dan tak terdistribusikan.
“Tutup mas. Kini terdapat 6 ton meat (daging kupasan rajungan), yang masih tersimpan di cold storage, dengan total senilai Rp750 juta,” ujar Galih, pengusaha mini-plan UD. Untung di Kecamatan Paciran, Sabtu (25/6/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”UMKM”]
Lebih lanjut, dari pengamatan beritajatim.com di lapangan, tak hanya usaha rajungan milik Galih saja yang tutup, namun kondisi serupa juga dialami oleh 7 mini-plan atau penyuplai lainnya. Bahkan, ada 20 pengusaha yang merupakan pengepul rajungan lokal yang juga tutup.
“Harga daging rajungan saat ini masih Rp150 ribu per kilogram, di tingkat supplier. Namun kita tidak tahu, sampai kapan harga ini bisa kembali normal. Kita juga tidak tahu, para eksportir itu kapan akan kembali membeli daging rajungan,” kata Galih.
Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Himpunan Nelayan Tradisional Indonesia (HNTI) Lamongan Muchlisin Amar. Menurutnya, saat ini harga rajungan yang masig bercangkang Rp25 ribu per kilogram. Bahkan ia menyebut, harga rajungan kalah jauh jika dibandingkan dengan harga bekicot.
“Harga rajungan ini anjlok, saat ini hanya Rp25 per kilogram. Masih kalah mahal dengan harga bekicot yang berada di angka Rp60 ribu per kilogram,” ungkap Muchlisin.
Dengan anjloknya harga rajungan ini, pria yang juga Ketua Rukun Nelayan (RN) Paciran ini menjelaskan, banyak nelayan yang memutuskan untuk menjual hasil tangkapan rajungannya ke pasar-pasar tradisional. Meski begitu, tidak semua rajungan tersebut yang terserap.
“Sekali melaut, satu unit perahu nelayan di bawah 5 GT di Paciran ini rata-rata mampu membawa 15 sampai 20 kilogram saja. Banyak nelayan merasa rugi. Pasalnya, biaya operasional yang dikeluarkan untuk mencari rajungan tak sebanding lurus dengan hasil tangkap yang didapat. Apalagi nelayan harus ke tengah laut dan membutuhkan waktu semalaman,” bebernya.
Kendati demikian, Muchlisin mengatakan, nelayan terpaksa harus terus ke laut untuk mencari rajungan demi menyambung hidup. “Mata pencaharian masyarakat di sini ya nelayan. Jadi ya tetap harus melaut supaya dapur tetap ngebul,” tukas Dewan Penasehat KAHMI Lamongan ini.
Oleh sebab itu, Muchlisin berharap, kepada para pihak terkait, utamanya Menteri Perdagangan (Mendag) untuk segera mengatasi kondisi yang sulit ini. Sebab, jika hal ini terus terjadi, kesejahteraan nelayan akan semakin menurun.
“Kami berharap, Mendag baru, Pak Zulkifli Hasan bisa segera memulihkan kondisi ini. Karena bagaimanapun juga rajungan memiliki kontribusi yang besar terhadap devisa Negara. Selain itu, kasihan para nelayan dan pengusaha kecil yang ada di Lamongan yang harus menanggung beban ini. Lalu pertanyaannya, apakah ada pemain yang sengaja melakukan ini untuk mengambil keuntungan yang lebih besar? Mudah-mudahan tidak,” pungkasnya.[riq/kun]






