Surabaya (beritajatim.com) – UMKM adalah salah satu penopang Indonesia saat mengalami krisi moneter di tahun 1998 lalu. Namun saat pandemi menyerang pelaku UMKM lah yang paling berdarah-darah bahkan banyak pula yang gulung tikar karena tak mampu bertahan.
Salah satunya adalah usaha Sambal Stroom Rajungan Bu Riza, yang dimiliki oleh Evie Noor Izza. Evie memulai usahanya di tahun 2017 dengan menjual kare rajungan resep keluarganya yang berasal dari Tuban.
“Rajungan saya pilih karena itu memang masakan andalan saya. Yang selalu menjadi primadona saat saya menghidangkannya sekali setahun saat lebaran kumpul keluarga besar,” kenang Evie.
Namun baru di tahun 2017 dirinya baru memulai membuka masakan kare rajungan setelah 2 tahun berhenti dari tempat kerjanya. Keputusannya resign dari perusahaan kontruksi awalnya karena ingin dekat dan merawat ketiga anaknya.
“Tapi setelah 2 tahun resign, saya malah kebingungan mencari kegiatan sampingan karena sebelumnya terbiasa dengan rutinitas tinggi. Akhirnya suami saya menyarankan menjual resep andalan saya yakni kare rajungan,” bebernya.
Namun karena tidak punya warung, kare rajungan lebih banyak dijual jika ada pesanan atau open PO yang hingga kini pun masih dilakukannya. Setahun berjalan beberapa pelanggan menyarankan untuk menjual sambal, karena sambal untuk menambah taste kare rajungan sering dipuji sedap oleh pelanggannya.
“Dari masukan itu, saya dan suami berpikir sambal akan menjadi kuliner yang memiliki peluang pasar yang lebih luas. Sebab bisa tahan lama dan bisa dikirim hingga ke luar Surabaya,” jelas Evie.
Bersama suaminya, Evie harus melewati berbagai bercobaan agar sambal yang mereka hasilkan bisa tahan lama dan memiliki rasa yang standar. Demi mendapatkan standar rasa itu, Evie dan Riza, suaminya membutuhkan waktu 1 tahun. Dan baru di pertengahan 2019 keduanya memproduksi sambal yang diberi merek Sambal Stroom Rajungan Bu Riza.
Dalam 6 bulan, Sambal Stroom sudah memiliki pelanggan tetap karena sambal rajungan selama ini belum pernah dijual di Surabaya. Sedikitnya 14 toko oleh-oleh sudah menjual produknya.
“Sambal kami dijual di Mitra Patata bandara hingga stasiun. Namun belum genap 9 bulan menikmati banyaknya pesanan dari toko oleh-oleh, pemerintah mengumumkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada Maret 2020,” tuturnya.
Pada akhirnya kondisi terburuk pun diumumkan bahwa pariwisata, transportasi termasuk bandara ditutup yang membuat toko oleh-oleh pun memilih tutup. Evie dan suaminya harus menelan pil pahit, sebab suaminya pun memilih fokus berbisnis sambal dan mundur dari tempatnya bekerja.
“Kami harus berpikir cepat, bagaimana caranya bertahan hidup. Akhirnya kami membuka pesanan catering yang sebagian besar dipesan untuk warga yang melakukan isolasi mandiri (isoman). Suami saya pun berupaya membuat produk baru, yakni bandeng asap,” ucapnya.
Sambil menunggu pandemi mereda keduany bertahan dengan membuka catering kotakan. Hingga pemerintah membuka kembali sektor perekonomian dan level PPKM sudah lebih rendah. Pesanan sambal pun mulai berdatangan dan tiba-tiba manajemen Indomaret menelpon Evie untuk memberikannya kesempatan menjual produk Sambal Stroom Rajungan di 31 gerai mereka di Rungkut dan Jambangan.
“Akhirnya kami kembali bisa membangkitkan usaha Sambal Stroom Rajungan Bu Riza ini. Kini setiap hari kami memproduksi ratusan botol sambal dengan 5 varian. Mulai dari sambal rajungan dengan 2 tingkat kepedasan, sambal bawang ebi, sambal cumi serta sambal rajungan kering,” ucapnya lega.
Dan kini peminat sambal rajungannya sebagian besar dari warga Jakarta yang datang untuk berwisata ke Jawa Timur terutama Surabaya.
Perjuangannya itu juga membuat beberapa perusahaan melirik semangat dan kreatifitasnya. Salah satunya BRI yang menobatnya Sambal Stroom Rajungan Bu Riza kedalam daftar UMKM BRIlianpreneur 2 tahun berturut-turut yakni di tahun 2020 dan 2021.
BRILianpreneur setiap tahun menggelar pameran industri kreatif yang unik, menampilkan karya-karya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terbaik Indonesia melalui berbagai instalasi seni yang memikat.
Di tengah pandemi Covid-19, di mana UMKM paling terdampak secara ekonomi, Bank BRI semakin menekankan komitmennya untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional melalui sejumlah langkah konkrit yang difokuskan pada upaya pemulihan UMKM dengan mendorong mereka untuk ‘Go Digital’.[rea]








