Ringkasan Berita:
- Bank UMKM Jatim memperkenalkan produk wastra dari Tuban, Kediri, dan Tulungagung dalam Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur–Sulawesi Selatan di Makassar, Rabu (4/11/2026).
- Produk yang dipamerkan meliputi batik tulis, tenun gedog, dan tenun ikat dengan karakteristik serta teknik produksi khas masing-masing daerah.
- Bank UMKM Jatim turut mendukung pengembangan usaha perajin, salah satunya Tenun Ikat Medali Mas di Kediri yang memperoleh fasilitas pembiayaan produktif melalui skema Prokesra dengan plafon Rp50 juta.
- Misi dagang yang dipimpin Gubernur Khofifah Indar Parawansa membukukan komitmen transaksi Rp5,69 triliun, terdiri atas penjualan produk Jawa Timur Rp4,71 triliun dan pembelian dari Sulawesi Selatan Rp976 miliar.
Makassar (beritajatim.com) – Bank UMKM Jatim membawa produk wastra dari Tuban, Kediri, dan Tulungagung untuk diperkenalkan kepada pelaku usaha serta masyarakat Sulawesi Selatan melalui Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur–Sulawesi Selatan di Makassar, Rabu (4/11/2026). Keikutsertaan tiga sentra kerajinan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pasar produk kriya lokal Jawa Timur ke Kawasan Timur Indonesia.
Produk yang diperkenalkan meliputi batik tulis, tenun gedog, hingga tenun ikat. Masing-masing memiliki karakteristik dan teknik produksi khas yang menjadi nilai pembeda sekaligus daya tarik bagi pasar di luar Jawa Timur.
Direktur Utama PT BPR Jatim (Perseroda) atau Bank UMKM Jatim, Irwan Eka Wijaya Arsyad, mengatakan keikutsertaan para perajin dalam kegiatan tersebut bertujuan memperluas penetrasi pasar sekaligus mengenalkan kekayaan budaya Jawa Timur kepada konsumen di luar daerah.
“Kami sengaja membawa karya terbaik perajin wastra Jatim ke Sulawesi Selatan untuk memperluas pasar dan memperkenalkan langsung ragam kekayaan kriya kita. Mulai dari tenun gedog Tuban, tenun ikat Kediri, hingga batik Tulungagung, produk-produk ini memiliki standar kualitas tinggi dan siap bersaing di pasar nasional,” ujar Irwan.
Dari Kabupaten Tuban, produk yang diperkenalkan berasal dari Rumah Batik Yulistiana milik Yulistiana. Perajin ini membawa batik tulis dan tenun gedog yang memiliki proses produksi khas, terutama penggunaan teknik tradisional dalam pembuatan kain.
Tenun gedog dibuat secara manual sejak tahap pemintalan kapas lokal menjadi benang. Benang tersebut kemudian ditenun menggunakan alat tradisional yang menghasilkan bunyi khas “dog dog dog”. Setelah menjadi kain, proses dilanjutkan dengan pengerjaan motif batik tulis. Rangkaian pengerjaan tersebut menghasilkan kain dengan tekstur tebal dan serat alami.
Sementara itu, produk dari Kota Kediri diwakili Tenun Ikat Medali Mas milik Siti Ruqoyah. Usaha ini memiliki kapasitas produksi sekitar 250 potong per bulan dan telah memperoleh fasilitas pembiayaan produktif melalui skema Prokesra Bank UMKM Jatim dengan plafon Rp50 juta.
Proses pembuatan tenun ikat Kediri mengandalkan teknik pengikatan benang sebelum pewarnaan celup. Ketelitian dalam tahapan tersebut diperlukan untuk menghasilkan motif geometris dan pola klasik yang presisi ketika benang ditenun menjadi kain maupun sarung.
Adapun dari Kabupaten Tulungagung, CV Saha Perkasa Gajahmada milik Munganah membawa produk batik tulis, batik cap, hingga pakaian batik siap pakai. Usaha tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 500 potong per bulan.
Dalam proses produksinya, perajin mengombinasikan teknik batik cap untuk membentuk pola dasar dan batik tulis untuk mengerjakan detail isen-isen. Kombinasi tersebut menghasilkan kain dengan tekstur rapat dan pengerjaan motif yang rapi.
Irwan mengatakan, keterlibatan Bank UMKM Jatim dalam memperkenalkan produk perajin tidak hanya berkaitan dengan dukungan pembiayaan. Perbankan juga berupaya membuka akses pemasaran agar produk UMKM memiliki kesempatan menjangkau konsumen yang lebih luas.
“Kehadiran kami di sini memastikan bahwa pendampingan perbankan tidak berhenti pada aspek pembiayaan, tetapi konsisten mengawal hingga produk lokal menembus pasar yang lebih luas,” ujar Irwan.
Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur–Sulawesi Selatan yang dipimpin Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tersebut secara keseluruhan membukukan komitmen transaksi sebesar Rp5,69 triliun. Nilai tersebut terdiri atas penjualan produk Jawa Timur sebesar Rp4,71 triliun dan pembelian produk dari Sulawesi Selatan sebesar Rp976 miliar. [beq]






