Mojokerto (beritajatim.com) – Banjir yang merendam dua dusun di Desa Tempuran, Kecamatam Sooko, Kabupaten Mojokerto, Rabu (12/12/2024) semakin parah. Ketinggian air mencapai 1,5 meter tersebut memaksa warga terdampak banjir mengungsi.
Jika sebelumnya sebagian warga terdampak banjirmasih bertahan di rumah masing-masing, di hari kelima ini mereka mulai mengungsi. Warga terdampak banjir meninggalkan rumahnya dengan membawa sejumlah barang-barang berharga seperti surat-surat berharga dan kendaraan roda dua.
Sementara mereka yang sebelummya sudah mengungsi kembali sejenak untuk melihat kondisi rumah dan membawa barang-barang yang bisa diselamatkan. Meski disediakan perahu karet, banyak warga yang memilih berjalan kaki di tengah banjir.
Aktivitas warga di Desa Tempuran lumpuh. Tak hanya merendam pemukiman warga padat penduduk, air banjir luapan Sungai Avour Watudakon juga merendam fasilitas umum seperti lembaga pendidikan, kantor pemerintahan, area pemakaman maupun masjid dan mushola.
Sementara itu, warga lain, Sutio menambahkan, banjir yang merendam Desa Tempuran kali ini cukup parah dibanding banjir-banjir sebelumnya. “Ada yang sampai ketinggian 1,5 meter. Tambah meningkat (ketinggian air). Warga semua mulai mengungsi karena listrik juga padam,” katanya.
Pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN) memadamkan aliran listrik lantaran kondisi air yang merendam dua dusun di Desa Tempuran yakni Dusun Tempuran dan Bekucuk semakin tinggi. Sehingga ia bersama keluarganya memilih untuk mengungsi ke rumah keluarga yang lebih aman.
Sebelumnya, banjir merendam dua dusun di Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto sejak, Sabtu (7/12/2024) pekan lalu. Hingga saat ini, air banjir masih meredam sedikitnya 470 rumah, fasilitas umum hingga area persawahan. [tin/beq]







