Mojokerto (beritajatim.com) – Banjir yang merendam dua desa di Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, yakni Desa Tempuran dan Desa Ngingasrembyong, selama sepekan terakhir, Senin (16/12/2024) surut. Warga yang sebelumnya mengungsi mulai kembali ke rumah masing-masing.
Jalan Desa Tempuran yang sebelumnya terendam sudah tidak ada genangan air. Hanya beberapa rumah yang memiliki permukaan lebih rendah dari jalan yang masih tergenang, itu pun rata-rata di bawah 20 cm. Meski air sudah mulai surut, belum ada aktivitas di kantor desa bahkan lembaga pendidikan.
Ini lantaran air masih menggenangi halaman dan listrik padam. Warga mulai membersihkan rumahnya masing-masing dan mengeluarkan sejumlah barang dari dalam rumah. Sejumlah relawan dari Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto masih menyuplai air bersih.
Sejumlah relawan turut membersihkan sampah yang ada. Di posko pengungsian musala dan posko kesehatan sudah tidak ada lagi warga yang mengungsi, barang-barang berharga pengungsi yang dititipkan di posko juga sudah diambil pemiliknya. Namun pendistribusian makanan dari dapur umum masih dilakukan.
Salah satu warga Dusun Bekucuk, Mulyono (50) mengatakan, warga sudah mulai kembali dan membersihkan rumah masing-masing yang dipenuhi oleh material terbawa banjir. “Material yang dibawa banjir berupa lumpur. Mulai surut total Minggu kemarin, saya kembali ke rumah dari pengungsian sejak Minggu sore,” ungkapnya.
Masih kata Mulyono, meskipun sudah surut namun untuk aktivitas sehari-hari seperti kebutuhan memasak di dapur masih belum bisa karena baru dibersihkan. Ia berharap ke depannya ada solusi penanganan dan mitigasi dari pihak-pihak terkait untuk mengatasi masalah banjir ini agar tidak meluap lagi ke pemukiman warga.
“Listrik baru menyala siang ini, karena kemarin lampu padam akibat debit air tinggi mencapai hampir 2 meteran. Sejauh ini kesusahan pada air karena meskipun sudah surut kondisi air dari pompa sanyo bercampur dengan air banjir jadi bisa gatal-gatal. Banjir ini paling parah dibandingkan tahun sebelumnya,” katanya.
Sementara warga lain, Slamet (74) mengatakan, air mulai surut sejak Minggu petang, namun air di dalam rumah benar-benar bebas genangan air Senin dini hari. Ia belum mengetahui berapa barang berharga yang rusak akibat genangan banjir yang terjadi selama sepekan itu.
“Tadi malam surut total sekitar pukul 02.00 WIB, banyak barang di rumah yang rusak sekarang masih pengecekan. Pengungsi sudah tidak ada, tadi pagi boyongan membawa barang-barang berharga yang dititipkan di lokasi mengungsi,” ujarnya.
Sebelumnya, banjir di Desa Tempuran terjadi sejak Jumat (6/12/2024) menyebabkan 930 rumah terendam dan 2.730 jiwa terdampak. Dampaknya di dua dusun, yakni Dusun Tempuran (180 rumah, 538 jiwa) dan Dusun Bekucuk (730 rumah, 2.192 jiwa). Beberapa fasilitas umum juga terendam, termasuk sekolah, balai desa, masjid, musala, dan gereja.
Sementara itu, di Desa Ngingasrembyong, banjir yang mulai terjadi sejak Sabtu (7/12/2024) berdampak pada 753 rumah dan 1.367 jiwa. Meliputi Dusun Pesanggrahan (23 rumah, 91 jiwa), Perum Bhinneka (280 rumah, 366 jiwa), Dusun Pendowo (79 rumah, 390 jiwa), Dusun Sidonganti (30 rumah, 100 jiwa), dan Perum D Garden City (450 rumah, 637 jiwa). [tin/ian]






