Lamongan (beritajatim.com) – Banjir akibat luapan Bengawan Njero yang merendam jalan antar desa di Lamongan kini telah surut. Meski begitu, usai tergenangi banjir kini jalan setempat menjadi licin dan menjadikan persoalan baru.
Hal tersebut seperti yang tampak di Desa Soko, Kecamatan Glagah, Lamongan. Tak jarang, jalan yang menjadi licin itu menyebabkan banyak pengguna jalan terpleset dan terjungkal. “Sudah mulai surut 3 hari ini,” ungkap salah seorang warga asal Kecamatan Glagah, Khoirul, kepada wartawan, Senin (28/2/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”banjir”]
Diketahui, jalan tersebut merupakan penghubung antara Kecamatan Glagah dengan Kecamatan Karangbinangun yang sebelumnya terendam banjir selama hampir 2 bulan dengan panjang genangan kurang lebih 5 kilometer.
Pihaknya menambahkan, licinnya jalan tersebut disebabkan oleh lumut dan lumpur yang muncul alibat lamanya banjir yang merendam. Khoirul menyebut, jalan beraspal yang licin ini mengakibatkan banyak pengendara motor terjatuh. Bahkan, imbuh Khoirul, dalam sehari ada 3 motor yang terjatuh.
“Iya mas, banyak yang jatuh karena jalannya licin berlumut. Sehari bisa lebih 3 pengendara motor yang terjatuh,” sebutnya.
Untuk meminimalisir korban, menurut Khoirul, warga yang melintasi jalan tersebut dihimbau untuk lebih berhati-hati dan waspada. Meski begitu, masih ada saja warga atau pengendara yang terjatuh lantaran tak tahu kondisi jalan setempat yang licin.
“Saya berharap agar ada pembersihan jalan yang bekas terendam banjir ini, agar tidak ada pengendara lain yang terjatuh lagi,” jelasnya.
Sementara itu, salah seorang pengguna jalan bernama Sholeh menyampaikan, saat banjir masih melanda jalan tersebut pada beberapa waktu lalu, ketinggian air banjir yang merendam jalan ini mencapai lebih kurang selutut orang dewasa dan ada juga yang setinggi ban mobil.
“Banjir sempat membuat sensor dinamo mobil sampai berwarna merah, karena terendam banjir, tak jarang banyak sepeda motor juga mogok saat nekat menerobos banjir di jalan in,i” beber Sholeh.
Tak cukup itu, Sholeh juga mengaku, ia terpaksa harus menerobos banjir untuk pergi pulang kerja dari Lamongan. Baik menggunakan motor atau mobil, imbuh Sholeh, keduanya sama-sama beresiko terjebak mogok di tengah genangan.
Sehingga agar bisa terhindar dari banjir, Sholeh berkata, ia harus rela memutar lebih jauh, yakni melewati Manyar, Gresik. “Nek wis rendeng alamat mas, kendaraan iki rusak kabeh. Awan sore lewat sini, sudah enggak ada jalan lagi,” keluhnya.
Seperti diketahui, Banjir akibat luapan Bengawan Njero Lamongan ini sedikitnya telah menggenangi 28 desa di 5 kecamatan di Lamongan. Kelima kecamatan tersebut diantaranya adalah Turi, Kalitengah, Glagah, Deket dan Karangbinangun. Selain merendam ratusan hektare tambak, banjir juga menggenangi sejumlah jalan antar kecamatan yang ada di Lamongan.
Bengawan Njero merupakan wilayah yang berbentuk mangkuk dengan dasar yang bergelombang dengan elevasi -0,70 m di sebagian wilayah bahkan sampai -1,20 m. Bengawan Njero merupakan daerah yang sering tergenang dan banjir pada saat musim penghujan. Air dari perbukitan selatan dan area sebelah barat melalui sungai Moropelang, Gondang, Kruwul, Plalangan dan Dapur berkumpul di Bengawan Njero.[riq/kun]






