Lamongan (beritajatim.com) – Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan, banjir akibat luapan Bengawan Jero saat ini telah merendam 42 desa di Lamongan. Warga menyebut, banjir kali ini lebih parah dibandingkan tahun lalu.
Hal itu seperti yang diungkapkan oleh Semi, salah seorang warga Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah. Menurutnya, banjir luapan Bengawan Jero yang menerjang desanya pada tahun ini lebih parah jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Bahkan, Semi mengaku, ketinggian air banjir yang merendam desanya itu juga jauh lebih tinggi dari tahun lalu. Tak hanya merendam pemukiman warga, banjir juga memutus akses jalan poros dan menggenangi sejumlah fasilitas umum seperti gedung lembaga pendidikan, masjid, dan lainnya.
“Banjir ini adalah akibat luapan dari Bengawan Jero yang dapat kiriman air dari selatan Lamongan. Banjir tahun ini lebih tinggi 10 cm jika dibandingkan tahun lalu,” ungkap Semi, Selasa (21/2/2023).
Semi juga menuturkan, warga di desanya kini menggunakan perahu sebagai moda transportasi. Pasalnya, banjir telah mengepung desa dan memutus akses jalan. Selain itu, kendaraan roda dua maupun roda empat sudah tak bisa lagi digunakan.
Atas kenyataan ini, tambah Semi, banjir telah membuat sebagian besar aktivitas warga tersendat. Bukan hanya sektor perekonomian, melainkan juga berdampak pada sektor pendidikan dan keagamaan.
“Ya jelas terganggu mas. Apalagi banyak rumah yang terendam banjir. Warga harus menggunakan perahu untuk menjalankan aktivitas di desa,” tandasnya.
Secara terpisah, Kepala BPBD Lamongan, Gunadi mencatat, 42 desa yang terdampak banjir luapan Bengawan Jero itu tersebar di 6 kecamatan, meliputi Kecamatan Kalitengah, Karangbinangun, Glagah, Turi, Deket dan Karanggeneng.
[berita-terkait number=”3″ tag=”banjir-lamongan”]
Gunadi merinci, 42 desa itu yakni 8 desa di Kecamatan Kalitengah, 9 desa di Kecamatan Karangbinangun, 7 desa di Kecamatan Glagah, 5 desa di Kecamatan Deket, 11 desa di Kecamatan Turi, dan 2 desa di Kecamatan Karanggeneng.
“Desa yang terdampak banjir bertambah. Sebelumnya berimbas di 35 desa di 5 kecamatan, tapi saat ini bertambah 5 desa lagi dan 2 desa di Kecamatan Karanggeneng. Sehingga total ada 42 desa di 6 kecamatan,” sebut Gunadi.

Lebih lanjut, Gunadi menyampaikan, ketinggian air banjir yang menggenangi 42 desa itu cukup variatif. Berkisar antara 15 sampai 60 centimeter. Ia menuturkan, banjir terparah terjadi di Desa Tiwet, Kecamatan Kalitengah. Di desa ini, banjir telah masuk ke pemukiman warga dengan tinggi 35 sampai dengan 45 centimeter.
Semakin bertambah parahnya banjir ini, beber Gunadi, disebabkan oleh kondisi debit air Bengawan Solo yang juga mengalami peningkatan, sehingga pembuangan air dari Bengawan Jero pun tak maksimal.
“Kami sudah mengaktifkan pompa pembuangan air di Pintu air Kuro dan Melik untuk mengurangi debit air, meski tidak begitu signifikan dalam menguras banjir,” jelasnya.[riq/ted]






