Mojokerto (beritajatim.com) – Banjir akibat luapan Sungai Avour Watudakon yang melanda Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, sejak Sabtu (8/12/2024), memaksa ratusan warga mengungsi. Hingga Senin (9/12/2024) malam, air belum menunjukkan tanda-tanda surut, memicu evakuasi besar-besaran oleh petugas gabungan.
Dengan menggunakan perahu karet, tim penyelamat memindahkan warga, terutama anak-anak, perempuan, dan lansia, ke lokasi pengungsian yang lebih aman. Tak hanya manusia, hewan ternak milik warga pun turut dievakuasi.
Prasetyo, salah satu warga setempat, mengungkapkan bahwa banjir telah memasuki hari ketiga dengan ketinggian air mencapai pinggang hingga dada orang dewasa di beberapa lokasi.
“Yang paling parah di Dusun Bekucuk, sebagian warga sudah mengungsi,” ujarnya, Selasa (10/12/2024).

Menurut Prasetyo, banjir terjadi akibat tingginya debit air Sungai Avour Watudakon yang diperparah oleh hujan lebat dan tersumbatnya aliran tanggul di Prabon, Jombang.
“Seharusnya air di tanggul itu ngalir lancar, tapi karena buntu malah meluber. Ditambah kiriman dari Jombang, air dari Kali Gunting berkumpul di sini,” jelasnya.
Sebanyak 470 rumah di dua dusun, Dusun Tempuran dan Bekucuk, terdampak banjir. Aktivitas warga lumpuh total, termasuk sekolah yang diliburkan. Warga berharap pemerintah segera menyediakan pompa air untuk membantu mengatasi banjir dan mencegah dampak lebih lanjut. [tin/beq]






