Ponorogo (beritajatim.com) – Dalam upaya mendukung pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo, yang tergabung dalam Kelompok 7 KKNT Desa Kepyar Kecamatan Purwantoro Kabupaten Wonogiri menggelar Workshop Digital Marketing.
Dengan bertajuk Dusun Sumber Berdaya di Era Digital, kegiatan itu bertempat di SD Negeri 3 Kepyar. Workshop digital ini, menghadirkan dua pemateri berpengalaman, Sutejo dan Rila Shofia. Workshop ini diikuti oleh 40 peserta, mayoritas ibu-ibu Dusun Sumber dan PKK Desa Kepyar yang sangat antusias menyerap ilmu digital marketing.
Selain dikenal sebagai dosen, Sutejo juga aktif berkebun. Lahan di komplek perumahannya Ia sulap menjadi Kebun Literasi, tempat yang tidak hanya menghasilkan panen melimpah, tetapi juga menjadi wadah diskusi dan pelatihan literasi.
Keberhasilannya dalam pertanian bahkan menarik perhatian Dinas Pertanian Ponorogo, yang takjub dengan hasil panen singkong dan ubi berukuran besar. Prestasi ini turut mengantarkannya menjadi Juri Petani Milenial Nasional 2024.
Tak hanya itu, Sutejo juga aktif berbagi pengalaman melalui kanal YouTube Sutejo Ponorogo yang kini memiliki 10,4K subscriber, serta Kebun Literasi yang sudah diikuti oleh 21,8K subscriber. Kontennya yang autentik, mulai dari berkebun hingga edukasi literasi, berhasil menarik jutaan penonton.
Sementara itu, Rila Shofia, mahasiswi STKIP PGRI Ponorogo angkatan 2021, sukses memanfaatkan platform digital untuk bisnis. Dengan 14K pengikut di Instagram dan keahlian sebagai afiliator TikTok, Rila mengembangkan bisnis kuliner seperti warung penyetan, Ayam Recheese, serta Pisang Cokelat Sepisang. Tak hanya itu, ia juga merambah bisnis skincare dan jasa tenaga kerja melalui kemitraan dengan LPK Risella.
Selain sukses di dunia bisnis dan digital marketing, Rila juga berprestasi dalam seni bela diri, sering menjuarai lomba pencak silat nasional. Keaktifannya di berbagai bidang menjadikannya inspirasi bagi peserta workshop, terutama dalam memanfaatkan media digital untuk menambah sumber pendapatan.
Sutejo memberikan motivasi kepada peserta workshop agar berani menjadi konten kreator, tanpa memandang usia. Ia berbagi pengalaman bagaimana kontennya yang paling diminati justru adalah yang memperlihatkan kesehariannya sebagai petani.
“Uniknya justru di ibu-ibu. Kalau saya bikin konten sebagai dosen, malah sepi. Tapi kalau saya pakai kaos biasa, celana robek, caping, dan macul di kebun, penontonnya bisa berjuta-juta,” ujar Sutejo, ditulis Senin (24/02/2025).
Ia juga memberikan ide kreatif, seperti membuat konten saat mencari rumput (ngarit), berpura-pura menghadapi drama kehidupan, lalu menggunakannya sebagai strategi promosi alat pertanian atau pupuk. Pendekatan humor dan lokalitas ini membuat warga semakin tertarik.
Sebagai pemateri muda, Rila Shofia memberikan panduan lengkap mengenai TikTok Affiliate, mulai dari persyaratan hingga cara mendapatkan sampel produk. Dengan penuh kesabaran, ia menjawab setiap pertanyaan peserta, bahkan membagikan kontak pribadinya untuk membantu mereka setelah workshop.
“Silakan catat nomor saya. InsyaAllah, saya siap membantu jika ada yang masih bingung soal TikTok Affiliate,” ungkapnya.
Workshop ini memberikan dampak nyata bagi warga Desa Kepyar. Hanya sehari setelah acara, beberapa peserta mulai mengunggah tautan afiliasi mereka, menandakan keberanian untuk memulai perjalanan sebagai afiliator digital.
Mei Rina Tripurnawati, Kepala Desa Kepyar, mengapresiasi inisiatif ini dan berharap peserta dapat terus berkarya dalam dunia digital. Ia juga menegaskan dukungan pemerintah desa terhadap berbagai potensi lokal, terutama dengan adanya kolaborasi antara KKNT STKIP PGRI Ponorogo dan KKN UNS.
“Pemdes siap mendukung berbagai potensi di Kepyar ini,” pungkas Mei Rina. (end/ted)






