Banyuwangi (beritajatim.com) – Bandara Banyuwangi sejak awal memang mengambil konsep yang ramah lingkungan. Airport itu juga menonjolkan lokalitas dan tetap menjaga kehijauan di sekitarnya.
Desain yang unik membuat ciri khas tersendiri. Sehingga tak ayal, membuat bandara ini diganjar Aga Khan Award for Arsitecture pada 2022.
Penghargaan bergengsi bertaraf internasional ini, menasbihkan kembali Indonesia. Setelah terakhir diterima pada 1995 untuk bandara Soekarno Hatta, Jakarta.
“PR kita sekarang adalah bagaimana menjaga dan mengembangkan bandara Banyuwangi sebaik-baiknya. Ini tidak sekadar bangunan dengan fungsinya yang tertentu, tapi ini adalah ikon daerah,” ungkap Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Menurut Andra Matin sang arsitek bandara Banyuwangi memang beda. Dia menyebut, succes story di Banyuwangi itu menginspirasi daerah lain untuk mengadaptasi konsep yang sama.
“Kami kemudian diminta untuk mendesain bandara dengan konsep serupa,” ungkap Andra Matin.
Ada beberapa daerah yang terang-terangan meminta untuk membangun airport serupa. Dia mencatat ada tiga bandara, di antaranya, dua di Sumatera Utara dan Papua Barat.
Selain itu, Andra juga menggelar workshop bersama sejumlah arsitek lainnya untuk membangun bandara dengan konsep serupa. Dari hasil workshop itu, dihasilkan 12 rancangan bandara dengan konsep senada.
Di antaranya adalah Bandara Teluk Dalam, Salakanegara, Paloh, Maratua, Kabir-Alor, Pohuwato, Banggai Laut, Sitaro, Reni, Kabare, Dorekar, dan Misool. Tersebar dari ujung barat hingga timur Indonesia. [rin/but]
BACA JUGA:






