Maluku (beritajatim.om) – Di balik keindahan alamnya yang memukau, Kepulauan Tanimbar menyimpan cerita unik tentang krisis air bersih yang melanda salah satu desanya, Desa Lermatang. Di tengah keterbatasan tersebut, kearifan lokal masyarakat setempat bersinar melalui keberadaan “Wetutune Wempas Dalam”, sebuah sumur tua yang dibalut magis dan menjadi sumber air vital bagi 1.645 jiwa.
Sejarah dan Keunikan Sumur Tua Wetutune Wempas Dalam
Sumur tua Wetutune Wempas Dalam telah berdiri kokoh sejak tahun 1800-an, menjadi saksi bisu perjalanan hidup masyarakat Desa Lermatang. Lebih dari sekadar sumber air, sumur ini dihormati dan dianggap memiliki kekuatan magis supranatural. Kepercayaan ini mendorong pelestarian sumur tua Wetutune Wempas Dalam hingga saat ini.
Ciri Khas Air Sumur Tua Wetutune Wempas Dalam
Air yang mengalir dari sumur tua Wetutune Wempas Dalam memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan sumber air lainnya, air dari sumur ini digemari masyarakat karena rasa segarnya yang luar biasa. “Air di sini lebih enak dibandingkan air lainnya, lebih segar,” ungkap Lince Rumihin, salah satu warga Desa Lermatang.
Tantangan Krisis Air dan Solusi dari Kemensos
Meskipun dihormati sebagai sumber air magis, sumur tua Wetutune Wempas Dalam tak luput dari keterbatasan. Saat musim kemarau tiba, antara bulan Oktober hingga Desember, air sumur mengering dan membuat masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih.
Melihat situasi tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengambil langkah sigap dengan menerjunkan tim untuk membangun instalasi pengolahan air bersih layak minum di dua lokasi: di dekat sumur tua dan gereja tua Desa Lermatang. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian bakti sosial Kemensos di Kabupaten Kepulauan Tanimbar pada 26-27 Juni 2024.
Upaya Pelestarian dan Masa Depan Sumur Tua Wetutune Wempas Dalam
Keberadaan sumur tua Wetutune Wempas Dalam bukan hanya soal sumber air, tetapi juga cerminan kearifan lokal dan budaya masyarakat Desa Lermatang. Upaya pelestarian dan pemanfaatannya secara berkelanjutan menjadi kunci untuk menjaga kelestarian budaya dan memastikan akses air bersih bagi masyarakat di masa depan.
Tempat ini berlokasi di Desa Lermatang, Kepulauan Tanimbar, Maluku dan sudah ada sejak tahun 1800-an. Adapun sumur ini memiliki kedalaman 15 meter. Sumur ini dianggap memiliki kekuatan magis supranatural, airnya segar dan berbeda dengan sumber air lainnya. Adapun kelemahannya sumur ini mengering saat musim kemarau. Maka dari itu sebagai solusi perlu dilakukan pembangunan instalasi pengolahan air bersih layak minum oleh Kemensos
Kisah sumur tua Wetutune Wempas dalam menjadi pengingat bahwa di balik kesulitan, selalu ada solusi. Kearifan lokal dan kerjasama masyarakat menjadi kunci untuk mengatasi krisis air dan menjaga kelestarian budaya. [aje]






