Magelang (beritajatim.com) – Desa Karangrejo di Borobudur Magelang mampu membuat gebrakan. Dari desa yang tanpa potensi menjadi desa tersukses mengembangkan usaha Balai Ekonomi Desa (Balkondes).
Kini Desa Karangrejo lewat Balkondes yang dikelolanya mampu mengumpulkan omset hingga Rp 1,8 miliar di tahun 2022 lalu. Bahkan disaat pandemi pengelola Balkondes Karangrejo tetap meraih omset yang cukup menggembirakan.
“Di kawasan Borobudur ada 20 desa dan setiap desa memiliki Balkondes berupa homestay, resto hingga cafe yang merupakan dana CSR dari berbagai BUMN. Dan di Balkondes Karangrejo ini merupakan binaan dari PT Pertamina Gas Negara (PGN),” papar Heli Rofikun, Kepala Desa Karangrejo, Rabu (11/10/2023).
“Disini awalnya yang kami kembangkan adalah homestay dimana warga yang ingin bergabung kami rangkul. Dan kini kami tak hanya mengelola homestay saja tetapi ada wisata Puthuk Setumbu, Gereja Ayam, Kebun Buah Karangrejo dan Balkondes ini,” papar Heli.
Jika dulu Desa Karangrejo menjadi desa yang kurang maju dan menjadi urutan terbelakang dari 20 desa yang ada. Kini dari 20 desa di Borobudur, Karangrejo mendapat peringkat terbaik dari pengelolaan ekonomi dan tata kelola keuangan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).
Hal yang sama juga diamini oleh Widodo, Direktur Balkondes PGN Karangrejo yang mengakui jika daya tarik alam Karangrejo tidaklah semenarik daeeah-daerah wisata seperti Kota Batu dan Bandung. Tetapi gerakan masyarakat dan tata kelola yang baik mampu menciptakan ladang bisnis baru bagi warga desa.
Adapun dari omset Rp 1,8 miliar di tahun 2022 akan dipotong biaya operasional dan pengembangan. Serta disisihkan untuk keuntungan yang dibagikan kepada perangkat desa serta dusun. Rinciannya 35 persen keuntungan akan dibagikan untuk abdi desa termasuk kepala desa karena Balkondes dibangun diatas tanahnya bengkok desa. 35 persen untuk Balkondes, 10 persen akan dibagikan untuk pengembangan infrastruktur dan fasilitas desa. 10 persennya dibagikan untuk sosial termasuk dibagikan ke 6 dusun yang ada di Desa Karangrejo.
“Sekarang kami mampu menggaji karyawan yang bekerja di Balkondes ini lebih dari Rp 3,6 juta per bulan. Dan ibu-ibu rumah tangga di desa ini kami kerahkan untuk membuat makanan dan jajanan untuk tamu Balkondes yang datang menginap maupun melakukan edukasi wisata tradisional farming. Jadi semua sektor perekonomian bergerak,” papar Widodo.
Jika sebelumnya Balkondes hanya sebatas homestay. Maka kini manajemen Balkondes Karangrejo sudah mengembangkan usaha lain mulai dari wisata edukasi pertanian hingga membuka cafe moderen kekinian bernama Tantrum dengan pemandangan Bukit Manoreh.
‘Efeknya tak hanya pergerakan ekonomi desa yang melaju seiring dengan peningkatan wisata Borobudur saja. Kini warga kami yang merantau di kota tertarik kembali pulang dan memilih menjadi bagian dari pekerja wisata di Balkondes. Pemuda yang tidak bekerja kini menjadi pemandu wisata maupun bekerja disektor wisata,” tandasnya.[rea]






