Surabaya (beritajatim.com) – Badan Litbang dan Diklat Kemenag akan bertransformasi menjadi Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).
Kepala Balitbang-Diklat Suyitno mengungkapkan, setidaknya ada empat program yang menjadi tugas lembaga ini. Dia menyebutnya sebagai Catur Program.
“Jika sudah bertransformasi, kira-kira ada empat bidang yang akan digarap. Ini merupakan catatan kecil yang boleh dikritisi,” tutur Suyitno yang dikutip dari laman resmi Kemenag, Selasa (13/12/2022).
Suyitno menyebutkan empat program tersebut. Pertama, transformasi digital, kelembagaan, dan sarana-prasarana. Kedua, pemetaan dan penataan SDM. Hal ini penting karena berkaitan dengan pembinaan sumber daya manusia. Ke depan, kata Suyitno, ASN Kemenag akan dipetakan berdasarkan manajemen talenta, sehingga akan menjadi bank SDM.
Ketiga, penguatan baseline kebijakan bidang agama dan layanan keagamaan. Keempat, yaitu meningkatkan Jaminan Mutu dan Zona Integritas (Jamu Zotas).
[berita-terkait number=”5″ tag=”kemenag”]
“Nah, dalam empat program utama ini yang menjadi core business-nya nanti adalah memastikan transformasi kelembagaan. Itu ditandai salah satunya adalah Puslitbang 1 yang berubah menjadi Pusat Moderasi Beragama,” ucap Suyitno.
Dia juga menjelaskan, pihaknya akan mendiskusikan lebih lanjut. Namun, yang pasti akan ada perubahan di bidang penelitian dan pengembangan.
“Ini kalau kita lihat di draft RPMA tentang SOTK itu memang berpotensi menjadi Pusat Moderasi Beragama. Tetapi apakah itu, nanti kita diskusikan lebih lanjut. Tetapi, apapun itu institusi kita telah berubah terutama di bidang penelitian dan pengembangan,” tambahnya.
Menurut Suyitno, jika sudah bertransformasi, maka tugas terkait Moderasi Beragama menjadi sangat luar biasa. Dia merasa, hari-hari ini polarisasi di media sosial sangat seru. Ia berharap, semua bisa berakhir dengan baik.
Sistem Deteksi Dini
Suyitno mengatakan, Kemenag saat ini juga sedang merancang program early warning system (sistem deteksi dini) sebagai upaya pencegahan ektremisme dan intoleransi. Pihaknya membayangkan akan mempunyai ‘BMKG’ ala Kemenag.
“BMKG Kemenhub sudah sangat baik membaca cuaca, cerah, mendung, berpotensi hujan dan lainnya. Tetapi dalam konteks kerawanan sosial keagamaan, kita sering kecolongan. Nah, kita sebagai penjaga pengarusutamaan Moderasi Beragama, terutama Puslitbang 1, seolah selalu ketinggalan. Transformasi kelembagaan ke depan kita meniscayakan adanya BMKG untuk mendeteksi itu,” ucap Suyitno.
Suyitno yakin intoleransi juga mudah dideteksi lantaran ada gejalanya. Dia meminta jajarannya, terutama di Puslitbang 1 mengawal hal ini supaya fungsional, dapat menciptakan keamanan dan kenyamanan masyarakat, khususnya dari perspektif intoleransi. (nap)






