Gresik (beritajatim.com) – Sebanyak 30 remaja asal Pulau Bawean diamankan aparat kepolisian setelah terlibat balapan liar sepeda angin yang meresahkan warga di Kecamatan Sangkapura, Senin (2/3/2026). Aksi adu kecepatan tersebut dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan lain, terlebih terjadi pada bulan suci Ramadan.
Kapolsek Sangkapura, Iptu Andik Asworo, menegaskan langkah tersebut merupakan respons atas laporan masyarakat yang resah terhadap aktivitas balapan liar yang kerap terjadi menjelang waktu berbuka puasa maupun selepas salat tarawih.
“Ini sebagai langkah preventif untuk mencegah gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) selama bulan Ramadan,” ujarnya.
Para remaja yang diamankan, baik peserta maupun penonton, tidak langsung dikenakan sanksi hukum. Mereka dikumpulkan di aula Polsek Sangkapura untuk mendapatkan pembinaan bersama orang tua, tokoh masyarakat, serta tokoh agama.
Dalam kegiatan tersebut, polisi juga menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Sangkapura untuk memberikan pembinaan rohani. Ketua MUI Sangkapura, KH Mashudi Wasi, menyampaikan pesan moral agar para remaja tidak terjerumus pada aktivitas negatif yang dapat merugikan diri sendiri maupun keluarga.
“Jangan sampai anak-anak kita terjerumus ke hal-hal negatif hingga menyusahkan orang tua,” pesannya di hadapan para remaja dan wali mereka.
Suasana haru mewarnai kegiatan pembinaan tersebut. Sejumlah remaja terlihat menangis dan berpelukan dengan orang tua setelah menyampaikan permintaan maaf.
Menurut Iptu Andik, balapan liar bukan sekadar pelanggaran ketertiban umum, tetapi juga berpotensi memicu kecelakaan lalu lintas yang membahayakan banyak pihak.
“Tidak hanya membahayakan pelaku, tetapi juga pengguna jalan lainnya. Kami mengajak para remaja mengisi waktu dengan kegiatan positif dan menghormati suasana ibadah di bulan suci Ramadan,” imbuhnya.
Ia menegaskan pendekatan pembinaan lebih mengedepankan metode persuasif dan edukatif agar para remaja memahami risiko dari tindakan tersebut serta tidak mengulanginya di kemudian hari.
Sementara itu, Kepala Desa Lebak, Fadal, mengungkapkan aparat desa bersama masyarakat sebenarnya telah beberapa kali melakukan patroli dan pembubaran di titik-titik yang kerap dijadikan arena balapan liar.
“Kami bersama perangkat desa sudah beberapa kali melakukan pencegahan. Harapannya, pembinaan ini memberi efek jera sekaligus menumbuhkan kesadaran bagi para remaja,” ungkapnya.
Sinergi antara kepolisian, ulama, pemerintah desa, dan orang tua dinilai menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif, khususnya selama Ramadan di wilayah Sangkapura, Pulau Bawean.
Langkah kolaboratif tersebut diharapkan mampu menekan potensi gangguan kamtibmas sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa Ramadan merupakan momentum memperbaiki diri, bukan ajang unjuk keberanian di jalan raya. (dny/but)






