Madiun (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun berencana membangun rest area di jalur strategis By Pass perbatasan Madiun–Nganjuk, tepatnya di Desa Pajaran, Kecamatan Saradan. Fasilitas ini akan menjadi tempat istirahat terpadu bagi para pengguna jalan, mulai dari kendaraan pribadi, umum, hingga kendaraan berat.
Kepala Bidang Angkutan Darat Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Madiun, Cahyo Sukmono Djati, menjelaskan bahwa rencana tersebut saat ini telah memasuki tahap penyusunan dokumen kajian teknis. Lahan yang disiapkan seluas 50.648 meter persegi atau sekitar 5 hektare, dan merupakan aset milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 7 Madiun.
“Rest area ini tidak hanya untuk kendaraan berat, tetapi juga bagi seluruh pengguna jalan yang melintas di jalur tersebut,” ujar Cahyo, Kamis (9/10/2025).
Menurutnya, lokasi pembangunan dipilih karena memiliki nilai strategis tinggi sebagai penghubung utama antara Kabupaten Madiun dan Nganjuk. Keberadaan rest area tersebut diharapkan dapat mendukung mobilitas antarwilayah sekaligus menghadirkan fasilitas publik yang nyaman dan berkelanjutan.
“Rest area ini akan menjadi wajah baru Kabupaten Madiun, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi lokal,” imbuhnya.
Selain menjadi tempat istirahat, rest area juga akan difungsikan sebagai etalase produk unggulan UMKM dan sarana promosi investasi daerah. Dengan demikian, kawasan ini akan berperan ganda: sebagai fasilitas transportasi sekaligus pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Meski lahan sudah tersedia, proses pembangunan belum bisa dimulai karena masih ada beberapa bangunan di atas aset milik PT KAI. Dishub Madiun kini menunggu penyelesaian kontrak bangunan tersebut yang dijadwalkan berakhir pada akhir 2025.
“Kami menunggu proses dari PT KAI. Setelah lahan siap, barulah proyek ini bisa dilanjutkan,” terang Cahyo.
Dishub bersama tim ahli dan akademisi kini tengah menyusun dokumen teknis sebagai dasar penyusunan nota kesepahaman (MoU) antara Pemkab Madiun, PT KAI Daop 7, dan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Setelah itu, hasil kajian akan dipresentasikan untuk mendapatkan masukan sebelum tahap pembangunan dimulai.
Cahyo belum dapat memastikan berapa besar anggaran yang akan digunakan. Namun, ia optimistis proyek ini akan membawa manfaat besar bagi warga sekitar dan para pengguna jalan antarwilayah.
“Kalau terealisasi, rest area ini bisa jadi ikon baru konektivitas wilayah barat Jawa Timur, sekaligus pusat ekonomi baru bagi masyarakat sekitar,” ujarnya. [rbr/beq]






