Malang (beritajatim.com) – Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang (FK Unisma) kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak dokter muslim unggul dan berintegritas tinggi. Dalam Baiat Dokter Muslim ke-41 yang digelar Sabtu (19/4/2025), sebanyak 13 dokter baru resmi diambil sumpahnya, menandai awal pengabdian mereka kepada masyarakat dengan landasan keislaman yang kuat.
Prosesi baiat berlangsung khidmat di Gedung Pascasarjana Lantai 7 Unisma, dihadiri oleh orang tua, dosen, dan pimpinan universitas. Acara ini bukan sekadar simbol kelulusan, tetapi juga pengukuhan komitmen etis dan spiritual para dokter muda.
“Baiat adalah bagian penting dari tradisi akademik Unisma, khususnya untuk lulusan pendidikan profesi. Mereka telah dibekali karakter Ahlusunnah wal Jamaah yang dirumuskan dalam 10 karakter dokter muslim,” ujar Rektor Unisma, Prof. Junaidi Mistaar, M.Pd., Ph.D.
Tak hanya menjunjung nilai-nilai spiritual, FK Unisma juga menunjukkan prestasi akademik yang luar biasa. Sejak pertama mengikuti Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD), FK Unisma berhasil mencatat kelulusan 100 persen first taker sebanyak 17 kali berturut-turut.
“Nilai terendah mahasiswa kami pun masih berada di atas rata-rata nasional. Ini membuktikan konsistensi mutu pendidikan kami,” tambah Prof. Junaidi.
Dekan FK Unisma, dr. Rahma Trilliana, M.Kes., Ph.D., juga mengungkapkan kebanggaannya terhadap capaian mahasiswa. Ia menegaskan bahwa dalam beberapa periode terakhir, FK Unisma tidak memiliki mahasiswa retaker alias pengulang UKMPPD.
“Untuk periode ke-41 ini, seluruh mahasiswa lulus tepat waktu tanpa harus memperpanjang studi. Nilai tertinggi mencapai 90,66, dan nilai terendah 72, semuanya masih di atas rata-rata nasional,” tutur dr. Rahma.
Para dokter baru merupakan angkatan 2017/2018 yang telah menempuh pendidikan dengan berbagai penguatan karakter sejak awal. FK Unisma diketahui menjadi pelopor penerapan sistem pondok pesantren dalam pendidikan kedokteran sejak 2012, melalui Pondok Pesantren ROZ.
Pendidikan Karakter dan Tes Psikologi Jadi Kunci
Dalam membentuk karakter dokter muslim yang kuat, FK Unisma juga menerapkan tes psikologi berkala, termasuk tes MMPI dan tes kepribadian cohort. Tes ini dilakukan mulai dari awal masuk, pertengahan studi, hingga akhir masa pendidikan profesi, untuk memastikan bahwa setiap lulusan memiliki karakter yang stabil dan siap menghadapi tantangan dunia medis.
“Profesi dokter bukan hanya soal ilmu, tetapi juga akhlak. Kami selalu mengingatkan mahasiswa bahwa sumpah dokter bukan sekadar formalitas, tapi kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat,” tegas dr. Rahma.
Tak hanya itu, FK Unisma juga rutin mengundang psikolog dan pakar hukum menjelang baiat sebagai bagian dari proses penguatan akhir, agar para dokter siap secara mental, spiritual, dan profesional sebelum turun langsung ke masyarakat.
Menjaga Marwah Profesi, Menjaga Nama Institusi
Para lulusan FK Unisma diharapkan mampu menjaga nama baik institusi, keluarga, dan profesi dengan menjunjung sumpah dokter serta etika profesi. Mereka juga dibekali pesan penting untuk senantiasa kembali kepada nilai-nilai dasar Islam dan sumpah yang telah mereka ikrarkan.
“Jika kita lurus dalam pikiran, ucapan, dan tindakan, maka insya Allah praktik keprofesian kita akan diridhai Allah dan memberi manfaat luas,” tutup dr. Rahma.
Dengan torehan prestasi akademik dan fondasi karakter yang kuat, FK Unisma membuktikan diri sebagai lembaga pendidikan kedokteran yang tidak hanya mencetak lulusan berilmu, tetapi juga berakhlak mulia dan siap mengabdi bagi umat dan bangsa. (dan/ian)






