Ngawi (beritajatim.com) – Mujadidi Fauzha Adhim (16) menyabet medali emas dalam Kategori C Putra Kelas 27-51 Kg, World Pencak Silat Championship di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Dia pun diganjar bonus sepeda motor listrik dari Pemkab Ngawi.
Pelajar kelas XI SMAN 2 Ngawi ini disambut oleh Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko, di Pendapa Wedya Graha, Kamis (26/12/2024). Putra bungsu pasangan Lilik Purwadi dan Ellya Trisnawati itu mendapatkan bonus berupa satu unit motor listrik dan uang tunai Rp15 juta.
Remaja asli Desa Rejuno, Kecamatan Karangjati Ngawi itu mengaku siap mental saat bertemu dengan atlet dari luar negeri. Dia merasa tertantang dan bersemangat untuk menunjukkan kemampuan atlet Indonesia di ajang internasional itu.
“Pertandingan pertama melawan Uzbekistan, saya menang karena lawan saya KO. Kemudian, saat semifinal saya melawan atlet dari Malaysia dan menang dengan skor 52-19. Saat final saya melawan atlet Kazakhstan dengan skor 42-9,” katanya, Kamis (26/12/2024)
Mujadidi mengaku mulai berlatih pencak silat sejak 2021. Dia bergabung menjadi atlet pencak silat, karena sang kakak memberitahunya jika menjadi atlet pencak silat bisa mengikuti ajang nasional hingga internasional.
Seiring dengan berjalannya waktu, dirinya kemudian turut serta dalam beberapa kejuaraan. Dirinya kemudian menjadi salah satu atlet pencak silat berprestasi.
“Saya berpesan pada rekan-rekan Pesaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan atlet pencak silat manapun agar selalu bersemangat dalam berlatih, jangan mudah menyerah, dan jangan mudah puas dengan hasilnya,” pungkas remaja itu.
Sementara itu, Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko mengaku bangga dengan prestasi yang diraih Mujadidi. Keberhasilan ini menjadi buah dari proses pembinaan panjang yang dimulai sejak 2018, jauh sebelum pandemi Covid-19.
Menurut Dwi Rianto Jatmiko, pola pembinaan atlet di Ngawi telah mengalami perbaikan signifikan. “Kami merubah pola pembinaan sejak 2018, dengan membangkitkan kembali prestasi pencak silat melalui event internal yang diadakan secara rutin. Hasilnya mulai terlihat, terutama dengan adanya skema pembinaan yang sistematis. Atlet-atlet muda berbakat dilatih secara berjenjang, mulai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten,” ujar pria yang akrab disapa Mas Antok itu.
Ia menekankan pentingnya pembinaan dari tingkat bawah. Atlet yang berprestasi di tingkat kecamatan akan disalurkan ke level yang lebih tinggi, seperti Popda (Pekan Olahraga Pelajar Daerah) hingga kompetisi nasional dan internasional. Sistem ini memastikan proses seleksi berjalan objektif tanpa intervensi.
Sebagai bentuk apresiasi, Mujadidi mendapatkan hadiah berupa motor listrik serta bonus Rp15 juta dari Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Ngawi. Penghargaan ini diharapkan menjadi motivasi bagi atlet lain untuk terus mengukir prestasi.
“Apresiasi ini diberikan secara spontan, namun tetap menjadi simbol penghormatan atas perjuangan Mujadidi yang membawa nama baik Ngawi dan Indonesia di tingkat dunia,” tambahnya.
Antok juga menyampaikan bahwa penghargaan serupa akan diberikan kepada atlet lain yang berprestasi di berbagai cabang olahraga. Hal ini menjadi komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pengembangan potensi generasi muda.
Kesuksesan Ngawi di kancah pencak silat tidak terlepas dari pembinaan yang terarah. Event seleksi tingkat kecamatan hingga kabupaten menjadi momentum penting untuk menjaring bibit unggul. Pola pembinaan seperti ini dinilai efektif dalam meminimalisir praktik-praktik titipan yang kerap terjadi di daerah lain.
“Proses seleksi harus objektif, memastikan atlet terbaik dari tingkat bawah mendapatkan kesempatan untuk tampil di event besar. Ini juga menjadi langkah kami untuk menciptakan sistem yang adil dan transparan,” tegasnya. [fiq/beq]






