Kediri (beritajatim.com) – Wangi dupa berpadu dengan kepulan asap dari pembakaran jerami menyelimuti hamparan Kebun Dhoho di Dusun Bakung, Desa Wonorejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, pada Kamis (30/4/2026) pagi. Di tengah ladang yang siap panen tersebut, seorang pemuka adat Jawa melafalkan doa-doa penuh kekhidmatan.
Di hadapannya, tersaji cok bakal, sesajen sederhana yang sarat makna berisi bunga dan telur ayam. Ritual ini bukan sekadar rutinitas, melainkan wujud rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan kepada Sang Pencipta.
Pagi itu, General Manager KSO Kebun Dhoho, Juni Yanto, turut larut dalam kekhidmatan ritual. Usai doa dipanjatkan, ia memotong dua batang tebu khusus secara simbolis. Dua batang tebu ini memiliki takdir istimewa, keduanya tidak akan langsung digiling, melainkan akan diarak dan disatukan dalam tradisi “Manten Tebu” di pabrik gula sebagai penanda resmi dibukanya musim giling.
Usai prosesi sakral di ladang, acara bergeser pada kehangatan tradisi selamatan. Segenap pegawai KSO Kebun Dhoho, pimpinan pabrik gula sekitar, para petani, hingga masyarakat desa duduk membaur. Tidak ada sekat jabatan saat mereka mulai memotong tumpeng dan makan bersama, merayakan datangnya musim panen yang membawa berkah bagi banyak perut.
Bagi KSO Kebun Dhoho, ritual ini adalah gerbang pembuka dari rangkaian panjang aktivitas industri. General Manager KSO Kebun Dhoho Juni Yanto, menjelaskan bahwa selamatan ini adalah mata rantai yang tak terpisahkan dari siklus budidaya tebu.
“Agenda hari ini sebetulnya agenda yang sering dilakukan setiap tahun. Artinya kita melakukan selamatan bertepatan di mana menjadi rangkaian sebelum kita tebang untuk kita kirim ke pabrik gula. Yang dimulai dari proses tanam sampai dengan kletek (mengelupas daun kering), dan langsung nanti akan kita tebang, kita kirim ke pabrik,” jelas Juni Yanto.
Mesin-mesin pemotong dan armada angkut diproyeksikan akan mulai bergemuruh pada pekan kedua bulan Mei. “Insya Allah kita akan mulai tebang nanti di tanggal 12 atau mungkin 13. Yang akan kita kirim pertama kali nanti di Pabrik Gula (PG) Ngadirejo. Kita ngirim tebu, baik dari Kebun Dhoho 1 maupun Dhoho 2, semuanya ke Ngadirejo sambil menunggu pabrik-pabrik lain nanti buka giling,” tambahnya.
Nantinya, aliran pasokan tebu dari Kebun Dhoho tidak hanya bermuara di satu tempat. Hasil panen ini akan menyuplai urat nadi empat pabrik gula besar di wilayah Kediri dan sekitarnya, yakni PG Ngadirejo, PG Pesantren Baru, PG Mrican, PG Mojopanggung Tulungagung.

Tantangan Alam dan Dampak Ekonomi
Skala panen yang dihadapi KSO Kebun Dhoho pada musim tebang 2026 ini masuk dalam kategori raksasa. Dari total luasan lahan mencapai 3.310 hektar, KSO Kebun Dhoho menargetkan produksi prioritas sebesar 80,56 ton per hektar, sehingga total tebu yang akan dipanen menyentuh angka 267.000 ton.
Untuk memenuhi target pengiriman ke empat pabrik gula tersebut, kapasitas tebang harian dipatok pada angka yang fantastis, yakni 1.800 hingga 1.900 ton per hari. Namun, Juni Yanto menyadari bahwa bekerja di alam terbuka selalu membawa dinamika tersendiri.
“Karena kita bekerja di lapangan, artinya banyak sekali tantangan. Entah itu dari cuaca, entah itu dari lingkungan, masing-masing berbeda-beda di setiap kebun,” ungkapnya.
Di balik target angka yang besar, musim tebang membawa dampak ekonomi yang masif bagi masyarakat sekitar, terutama dalam hal penyerapan tenaga kerja. Pesta panen ini bukan hanya milik perusahaan, tetapi juga ribuan warga yang menggantungkan asa di ladang tebu.
“Kalau kita lihat untuk karyawan, itu nanti kami sendiri di angka 350-an orang. Kemudian, untuk nanti mulai proses tebang, itu kira-kira ada tambahan di angka hampir 1.000 orang,” pungkas Juni Yanto.
Musim tebang 2026 di KSO Kebun Dhoho telah dimulai. Mengawinkan doa leluhur, keringat ribuan pekerja, dan raungan mesin pabrik demi menjaga agar roda industri gula nasional tetap berputar manis.
KSO Kebun Dhoho akan terus bekerja keras untuk mendukung pencapaian target produksi gula nasional. Pemerintah menargetkan swasembada gula sebesar 3,36 juta ton pada tahun 2028, dengan produktivitas tebu minimal 80 ton per hektar dan rendemen mencapai 8 persen. [nm/beq]






