Surabaya (beritajatim.com) – Setelah gema takbir Idulfitri usai, suasana rumah masih ramai oleh tawa, salaman, dan kata-kata maaf lahir batin. Tapi ada satu tradisi yang khas di Indonesia yakni halalbihalal. Dari istana sampai ruang tamu, dari instansi pemerintah sampai tongkrongan alumni, semuanya punya momen “halalbihalal”.
Disarikan dari berbagai sumber, ternyata asal usul halalbihalal—tradisi maaf-maafan ini ternyata tidak ditemukan di negara Muslim lainnya!
Bukan dari Arab, Tapi dari Tanah Air Sendiri
Meskipun kata “halal” berasal dari bahasa Arab, halalbihalal sebagai sebuah tradisi justru lahir di Indonesia. Di Arab, nggak ada tuh acara kumpul bareng bernama halalbihalal setelah Lebaran. Orang Arab biasanya saling mengunjungi atau memberi ucapan Eid Mubarak, tapi nggak dikemas dalam bentuk acara resmi atau formal seperti kita.
Jadi bisa dibilang, halalbihalal adalah produk budaya khas Nusantara—di mana agama, tradisi, dan budaya lokal berpadu jadi satu.
Asal Usulnya: Dari Bingungnya Soekarno Sampai Ide Cerdas KH Wahab
Konon sejarah halalbihalal juga sering dikaitkan dengan situasi politik Indonesia pasca kemerdekaan. Tahun 1948, Presiden Soekarno punya masalah: para elit politik dan tokoh-tokoh nasional sedang tidak akur. Padahal, bangsa baru ini butuh persatuan.
Soekarno bingung cari cara buat menyatukan mereka. Lalu datanglah ide cemerlang dari KH Wahab Chasbullah, tokoh Nahdlatul Ulama. Beliau menyarankan untuk mengadakan acara silaturahmi dengan nama “halalbihalal”, karena masyarakat Indonesia saat itu tengah bersemangat menyambut Idulfitri.
Akhirnya, Presiden Soekarno menyetujui. Diadakanlah acara halalbihalal pertama di Istana Negara, di mana para tokoh politik datang, saling sapa, saling maaf-maafan, dan harapannya… saling memaafkan pula secara politik.
Dari Istana ke Seluruh Penjuru Negeri
Siapa sangka, tradisi yang awalnya hanya untuk meredakan konflik elit politik itu kemudian menyebar luas ke masyarakat. Sekarang, halalbihalal dilakukan di mana-mana:
• Di kantor-kantor, lengkap dengan pidato dan konsumsi
• Di sekolah dan kampus, jadi ajang reuni mendadak
• Di lingkungan RT/RW, sebagai bentuk guyub warga
• Bahkan di media sosial, grup WA keluarga juga nggak ketinggalan
Tradisi ini terus berkembang dan jadi bagian penting dari Lebaran ala Indonesia.
Kenapa Halalbihalal Penting?
Lebaran itu momen yang sakral, tapi juga personal. Setelah satu bulan penuh menahan lapar, emosi, dan dosa-dosa kecil, rasanya kurang lengkap kalau nggak ditutup dengan memaafkan orang lain dan diri sendiri.
Halalbihalal bukan sekadar formalitas. Ini momen untuk menyembuhkan hubungan yang mungkin sempat retak, mempererat silaturahmi, dan kembali ke “fitrah” kita sebagai manusia: saling memahami dan memaafkan.
Di tengah dunia yang makin cepat dan kadang dingin, halalbihalal jadi pengingat bahwa hangatnya hubungan manusia itu penting. Dan uniknya, hanya di negeri kita tradisi ini hidup dan berkembang. Sebuah bukti bahwa Indonesia punya caranya sendiri untuk merayakan kebersamaan dan kedamaian setelah Idulfitri.
Jadi, lain kali kamu ikut acara halalbihalal, ingat ya: kamu lagi menjalani tradisi khas Indonesia yang penuh makna. Bukan cuma soal tangan yang bersalaman, tapi hati yang saling menerima. [aje]






