Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Ketua DPRD Surabaya Arif Fathoni mendorong aparatur sipil negara (ASN) terus meningkatkan kompetensi akademik sebagai bagian dari penguatan reformasi birokrasi.
Menurutnya, pendidikan tinggi tidak berhenti pada pencapaian gelar, tetapi harus menghasilkan pengetahuan dan riset yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.
“Saya bangga senior saya, ASN di Pemkot Surabaya, Mas Hari Gunawan, terus meningkatkan kompetensi akademiknya,” ujar Fathoni saat menghadiri sidang promosi doktor Hari Gunawan di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Selasa (14/7/2026).
Hari Gunawan yang merupakan Sekretaris Kelurahan di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral di tengah tugasnya sebagai aparatur pemerintah. Fathoni memandang capaian tersebut dapat menjadi contoh bahwa peningkatan kapasitas ASN perlu berjalan seiring dengan pengabdian dalam birokrasi.
Politikus Partai Golkar itu mengatakan tantangan pelayanan publik semakin kompleks dan membutuhkan aparatur yang mampu membaca persoalan secara komprehensif. Bekal akademik dan budaya riset diharapkan dapat membantu ASN merumuskan solusi berbasis kajian serta mendorong lahirnya inovasi dalam pemerintahan.
“Harapannya, kompetensi akademik yang dimiliki dapat membuat pelayanan terhadap masyarakat Surabaya semakin baik pada masa-masa yang akan datang,” katanya.
Dalam sidang tersebut, Hari mempertahankan disertasi berjudul Transformational Leadership and Individual Agility: The Role of Innovative Work Behavior and Psychological Empowerment in Improving Individual Performance of Village Employees in Surabaya City. Penelitian itu mengkaji kepemimpinan transformasional dan kemampuan adaptasi dalam meningkatkan kinerja pegawai kelurahan melalui perilaku kerja inovatif dan pemberdayaan psikologis.
Inspektur Kota Surabaya M. Iksan mengatakan keberhasilan Hari menyelesaikan pendidikan doktoral pada usia di atas 50 tahun dapat menjadi inspirasi bagi ASN lainnya. Menurutnya, usia dan kesibukan dalam pekerjaan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk terus meningkatkan kapasitas diri.
“Beliau usianya di atas 50 tahun, tetapi luar biasa semangatnya dan bisa menyelesaikan S3. Selain membanggakan keluarga, kami dari Pemkot Surabaya juga merasa bangga. Ini bisa memotivasi teman-teman yang lain bahwa belajar itu tidak ada batasnya,” ujar Iksan.
Iksan mendorong peningkatan kompetensi ASN dilakukan melalui penguatan kemampuan teknis maupun pendidikan formal. Dia berharap semakin banyak aparatur yang mengembangkan pengetahuan untuk mendukung pekerjaannya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Ayo ramai-ramai kita selain meningkatkan kompetensi teknis untuk kegiatan di kantor, kita juga bisa meningkatkan keilmuan seperti yang dicontohkan Pak Hari Gunawan,” tuturnya.
Menurut Iksan, penelitian Hari juga relevan dengan kebutuhan birokrasi yang dituntut cepat merespons persoalan masyarakat tanpa mengabaikan regulasi. Inovasi, menurutnya, tetap harus berjalan dalam koridor akuntabilitas agar terobosan pelayanan tidak menimbulkan persoalan hukum maupun administrasi.
“Teman-teman sekarang bisa banyak melakukan terobosan di lapangan, bagaimana melayani masyarakat secara cepat dan tepat sasaran, tetapi juga tidak menyalahi aturan. Itu salah satu yang diangkat dalam disertasi Pak Hari Gunawan,” katanya.
Konsep individual agility dalam penelitian tersebut menggambarkan pentingnya kemampuan aparatur beradaptasi terhadap perubahan dan tuntutan masyarakat. Iksan mengatakan kemampuan itu dibutuhkan agar ASN tetap responsif dalam bekerja sekaligus patuh terhadap ketentuan.
“Bagaimana pegawai Pemkot bisa melaksanakan pekerjaannya dan melayani masyarakat dengan baik, tetapi tetap tidak melanggar aturan. Ternyata ada teorinya, saya juga baru tahu,” pungkasnya.[asg/ted]






