Surabaya (beritajatim.com) – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Cahyo Harjo Prakoso mendorong pemerintah daerah membuka lebih banyak ruang berkarya agar seniman tetap hidup dan berkembang di tengah arus globalisasi.
Menurut dia, keberlangsungan seni dan budaya tidak cukup dijaga lewat bantuan, tetapi harus disertai panggung dan kesempatan tampil yang berkelanjutan.
“Kami bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur menyampaikan salah satu bentuk perhatian dan atensi kami terhadap para pelaku budayawan dan seniman di Jawa Timur, khususnya di Kota Surabaya,” ujar Cahyo dalam kegiatan Penyaluran Apresiasi Pelaku Budaya Tahun 2026, Senin (2/3/2026).
Dalam agenda tersebut, para pelaku budaya menerima bantuan uang tunai, paket sembako, serta perlengkapan ibadah. Meski jumlah penerima terbatas, Cahyo menyebut langkah itu sebagai bentuk komitmen terhadap para penjaga tradisi.
“Memang jumlahnya tidak terlalu banyak tetapi ini adalah bentuk keseriusan kami untuk memperhatikan para pahlawan, para garda terdepan menjaga keberlangsungan budaya kita,” kata Ketua DPC Gerindra Surabaya ini.
Cahyo menilai kekayaan budaya Indonesia menjadi identitas yang tidak dimiliki bangsa lain. Di tengah perkembangan teknologi dan budaya global, seni dan tradisi daerah harus tetap hadir di ruang publik.
“Hal yang membedakan kita dengan bangsa lain adalah identitas kita yaitu budaya dan seni yang ada di tanah bumi Nusantara ini. Maka ini perlu kita jaga dan perhatikan keberlanjutannya,” ucap politisi muda ini.
Dia menyampaikan dukungan finansial tidak cukup untuk menjaga eksistensi pelaku budaya. Menurut dia, pemerintah perlu memikirkan kebijakan yang memberi ruang tampil dan ruang kreatif secara berkelanjutan.
“Tidak bisa hanya mengandalkan jaminan sosial atau bantuan uang tunai setiap tahunnya. Yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana caranya kita memberikan mereka ruang berkreativitas dan ruang untuk berkarya,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pembinaan SDM Lembaga Pranata Budaya Disbudpar Jatim Adiyanto menyatakan kolaborasi dengan DPRD diarahkan untuk memperkuat kemandirian seniman. Pemerintah ingin pelaku budaya tidak hanya bertahan, tetapi mampu tumbuh sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif.
“Pemerintah menginginkan, khususnya Disbudpar Jawa Timur menginginkan bahwa para pelaku budaya di Jawa Timur tidak hanya bisa bertahan, tetapi bisa tumbuh dan mandiri,” ujar Adiyanto.
Dia menambahkan budaya harus dipandang sebagai sumber kesejahteraan yang dikelola secara profesional. Dengan dukungan kebijakan dan ruang ekspresi, pelaku budaya diharapkan terus berkembang tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan pemerintah.
“Budaya bukan sekedar warisan akan tetapi sebagai sumber kesejahteraan yang bisa dikelola secara profesional dan berkelanjutan,” katanya. [asg/ian]






