Surabaya (beritajatim.com) – Mungkin istilah gamofobia masih baru bagi Anda. Memang tidak banyak yang membicarakan terkait hal ini. Gamofobia merupakan sebuah ketakutan dalam menjalani sebuah hubungan.
Orang yang mengalami gamofobia tidak mau ambil resiko untuk menjalin sebuah komitmen serius dengan pasangan. Orang yang mengalami ini bahkan bisa merasa takut pada pernikahan atau hubungan serius lainnya.
Faktor penyebab gamofobia yang salah satunya trauma akan kegagalan hubungan serius di masa lalu seperti ditinggal nikah, mengalami keretakan rumah tangga orang tua (broken home) dan mengalami rumah tangga yang berujung perceraian.
Dilansir dari healthy.co penyebab lain dari timbulnya gamofobia bisa berdasar pada pengalaman sendiri seperti hubungan sebelumnya yang tidak berhasil atau takut ditinggalkan jika sudah berkomitmen pada seseorang.
Usai menyadari jika rasa takut dan cemas berlebih yang dirasakan berdampak pada aktivitas sehari-hari, upaya terbaik untuk guna mengatasi yaitu dengan melakukan perubahan.
Jika sudah di tahap menyadari untuk berubah, Anda berarti telah mengambil langkah pertama untuk pulih dari rasa takut itu.
Tahap setelah itu jika sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Sebaiknya Anda harus menunjukkan sikap jujur pada orang tersebut mengenai diri sendiri, permasalahan yang sedang dihadapi, dan juga tentang bagaimana Anda belajar cara menghadapi masalah berkenaan dengan gamofobia.
Selain itu, pikirkan tentang alasan di balik ketakutan yang Anda alami seperti misalnya peristiwa buruk di masa lalu. Pikiran juga tentang apa yang Anda inginkan juga butuh dalam hubungan itu.
Kesadaran seperti ini merupakan sesuatu yang penting penting. Ini bisa jadi satu-satunya yang dibutuhkan untuk mulai mengatasi ketakutan Anda.
Meskipun demikian, komitmen ataupun pernikahan merupakan preferensi pribadi. Anda tidak mesti menikah atau punya hubungan yang berkomitmen apabila memiliki alasan yang sangat kuat dan mendasar.
Adapun ciri dari seorang penderita gamofobia saat dihadapkan pada topik terkait pernikahan, seperti obrolan, bacaan atau video, mereka akan mengalami beberapa hal. Mereka biasanya mengalami pusing, mual-mual, grogi, sesak nafas, penuh keringat, sakit dada, dan jantung berdebar-debar, serta dapat dilihat dari ekspresi wajah yang gelisah.
Jika mengalami tanda-tanda di atas, diharapkan tidak melakukan self diagnose. Tapi lakukan konsultasi pada psikolog atau psikiater. (dan/ian)






