Surabaya (beritajatim.com) – Menjelang Idul Adha 1443 Hijriyah, beberapa daerah di Jatim dihadapkan dengan adanya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menjangkiti sapi.
Tidak hanya para peternak yang merasa dirugikan, pedagang hewan ternak, Panitia Kurban Masjid hingga pekurban pun dibuat bimbang dan merasa serba kesulitan terlebih mendekati hari H Idul Kurban.
Ini karena pergerakan dan distribusi hewan ternak antardaerah dan antarprovinsi menjadi terganggu. Di suatu daerah stok hewan ternak menumpuk dan tidak bisa keluar dari daerah itu. Sementara di daerah lainnya sangat kekurangan, sehingga membuat harga ternak mengalami kegoncangan, kesenjangan dan serba tidak menentu.
Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (LAZISMU), khususnya wilayah Jawa Timur, selama 10 tahun terakhir senantiasa berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan ibadah kurban. “LAZISMU hadir memberikan solusi berkurban yang berkemajuan. Tahun ini tema besarnya adalah Qurbanmu, Inovasi Untuk Ketahanan Pangan,” kata Ketua LAZISMU Jatim, Zainul Muslimin kepada wartawan.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pemprov-jatim”]
LAZISMU menghadirkan sebuah solusi berupa inovasi untuk ketahanan pangan dengan program Qurban Kemasan. Yaitu hewan ternak kurban disembelih pada hari Raya Idul Adha dan hari-hari Tasyrik, lalu dagingnya diolah menjadi makanan siap santap dalam kemasan yang bisa tahan dalam jangka panjang, halal, lezat, praktis, hiegienis dan mudah didistribusikan kemanapun.
LAZISMU menjamin bahwa hewan ternak LAZISMU Jawa Timur dalam kondisi yang aman, sehat dan senantiasa dalam pengawasan dari Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Korwil Jatim serta bebas dari PMK. “Hewan ternak kurban tersebut disembelih di RPH modern, higienis dan steril, dengan pengelolaan sesuai syari dan profesional. RPH juga telah bersertifikat halal serta tidak jauh dari sumber sapi ternak kurban (kandang sapi),” pungkasnya. [tok/but]






