Lamongan (beritajatim com) – Anggota Komisi VI DPR RI asal Kabupaten Lamongan, Ahmad Labib, mengatakan bahwa penghematan bahan bakar minyak (BBM) menjadi salah satu langkah antisipatif yang penting, dalam menghadapi gejolak yang yerjadi antara Iran-Israel.
Menurut Labib, kewaspadaan terhadap potensi dampak konflik Iran-Israel harus ditingkatkan, karena dapat mempengaruhi distribusi energi.
“Memang kita perlu waspada terhadap efek kemungkinan stok BBM kita, karena perang Iran-Israel. Karena 19 persen minyak kita ini, impor minyak kita ini, melewati Selat Hormuz,” kata Labib, Senin (9/3/2026).
Labib mengungkapkan, langkah yang tak kalah oenting dilakukan, adalah penghematan BBM di dalam negeri, agar lebih efisien. Terutama untuk BBM bersubsidi.
“Kita sedang melakukan evaluasi, karena banyak juga penggunaan BBM kita ini yang sesungguhnya tidak efisien. Nah, itu juga sedang dievaluasi,” ujarnya.
Selain efisiensi BBM dalam negeri, kata Labib, saat ini pemerintah juga sedang melakukan negosiasi kepada pemerintah Iran agar kapal-kapal RI yang melewati Selat Hormuz tidak mendapat hambatan.
“Yang kedua, juga ada upaya diversifikasi sumber impor. Ini kita sudah mulai menjajaki untuk impor BBM dari negara lain, dari sumber lain di luar Timur Tengah. Sementara ini yang sudah punya appointment dengan kita untuk bahan bakar minyak itu Amerika,” tuturnya.
Menurut Labib, Amerika bisa menjadi alternatif sumber impor minyak RI, agar tidak terlalu bergantung dengan salah satu sumber saja, terutama yang dari Timur Tengah.
“Tapi yang paling penting adalah pemerintah kita sedang berupaya keras untuk swasembada produksi minyak,” ucapnya.
Sementara terkait ketersediaan BBM, Labib memastikan bahwa pasokan BBM selama Ramadan hingga Lebaran masih dalam kondisi aman.
“Jadi untuk itu, mungkin masyarakat tidak perlu panik, sehingga tidak perlu juga ada kondisi panic buying untuk BBM. Dan antrean yang terjadi mulai sekarang itu juga sebenarnya nggak perlu. Insyaallah masih aman,” kata Labib. (fak/ted)






