Mojokerto (beritajatim.com) – Angka kejadian kekerasaan pada perempuan dan anak di Jawa Timur mengalami penurunan, namun secara kualitas terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Hal tersebut merupakan salah satu indikasi keberhasilan pemerintah dalam upaya sosialisasi pencegahan terhadap kasus-kasus kekerasan perempuan dan anak.
Hal tersebut disampaikan Konsultan Perlindungan Perempuan dan Anak, Riza Wahyuni saat menjadi narasumber dalam Pelatihan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Lembaga Penyedia Layanan Anak di Kabupaten Mojokerto yang Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (P2KBP2) Kabupaten Mojokerto.
“Memang angka kejadian di Jawa Timur khususnya, itu secara angka mengalami penurunan. Tapi secara kwalitas itu terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Nah, melihat banyak kejadian artinya sebenarnya ini merupakan salah satu indikasi keberhasilan pemerintah,” ungkapnya di salah satu hotel di Kota Mojokerto, Selasa (29/11/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”mojokerto”]
Yakni dalam upaya sosialisasi pencegahan terhadap kasus-kasus kekerasan perempuan dan anak. Dalam sosialisasi pencegahan tersebut masyarakat diajarkan untuk berani melapor. Saat masyarakat berani melapor, lanjut Riza, menjadi sebuah poin. Riza menjelaskan, beberapa tahun lalu saat bicara tentang kekerasan anak, kekerasan seksual terutama dianggap fenomena gunung es.
“Yang kelihatan cuma sedikit, yang di dalamnya banyak tapi ketika kita melakukan sosialisasi bersama pemerintah dan melibatkan unsur masyarakat. Apakah itu organisasi perempuan? Apakah teman-teman di sekolah, di pendidikan dan lain sebagainya, itu membuat kemudian masyarakat jadi berani untuk melapor, berani speak up. Itu yang harus kita pahami dulu,” katanya.
Berani speak up artinya tugas pemerintah juga semakin berat. Bagaimana kemudian pemerintah bersama stakeholdernya mampu melakukan pelayanan yang maksimal, melakukan pendampingan ,melakukan pemulihan terhadap mereka-mereka yang menjadi korban. Masyarakat berani melapor saat ini sudah meningkat sampai 100 persen.
“Peningkatannya sekarang sudah mencapai 100%, awa Timur itu sudah mencapai angka 1000. Artinya bahwa masyarakat Jawa Timur itu adalah masyarakat yang bersama-sama juga melibatkan media untuk kita mengajak masyarakat untuk berani lapor dan kita melibatkan masyarakat dengan satgasnya atau apapun masing-masing wilayah di Jawa Timur untuk berani melapor,” urainya.
Siapapun pelaku, Riza mencontohkan, pelakunya guru, kyai, bahkan hafiz Al Qur’an. Semua pelaku akan dilakukan proses tanpa memandang siapa pelakunya. Artinya, lanjut Riza, di pesantren juga diajarkan pesantren ramah anak, sekolah ramah anak dan semua pihak harus berani melapor terhadap kekerasaan dari perempuan dan anak.
Sementara itu, Plt Sekretaris Dinas P2KBP2 Kabupaten Mojokerto, Abdul Kholik mengatakan, tujuan kegiatan tersebut digelar dalam rangka Peningkatan Sumber Daya Lembaga Penyedia Layanan Anak di Kabupaten Mojokerto yang berkelanjutan. “Dan mewujudkan tumbuh kembang anak yang berkwalitas,” paparnya.
Kedua, masih kata Kholik, tujuan kegiatan tersebut tidak lain untuk meningkatkan pelanggaran terhadap hak anak. Ketiga, para peserta diharapkan dapat memahami materi pelatihan dan bisa mengedukasi kepada masyarakat di wilayahnya masing-masing.
“Para peserta berjumlah 50 orang yang terdiri dari berbagai sektor. Diharapkan dalam pelatihan ini, para peserta mendapatkan data terkait penanganan kasus kekerasaan anak dari Kejari Kabupaten Mojokerto, Polres Mojokerto, PN Mojokerto dan narasumber,” pungkasnya.
Dalam pelatihan tersebut selain menghadirkan Konsultan Perlindungan Perempuan dan Anak, Riza Wahyuni, juga ada narasumber dari Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto, Polres Mojokerto dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto yang menjelaskan terkait Penanganan Kasus Kekerasaan Anak di masing-masing instansi tersebut. [tin]







