Magetan (beritajatim.com) – Anggaran pemeliharaan jalan di Kabupaten Magetan yang dikelola setiap Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) hanya berkisar Rp100 juta hingga Rp150 juta per tahun. Keterbatasan anggaran tersebut menjadi salah satu kendala dalam penanganan kerusakan jalan yang terjadi di berbagai wilayah.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Magetan, Muhtar Wahid, mengatakan dana pemeliharaan jalan yang relatif terbatas itu harus dibagi untuk menangani berbagai titik kerusakan yang tersebar di wilayah kerja masing-masing UPTD.
“Kalau pemeliharaan jalan di UPTD itu paling hanya sekitar Rp100 sampai Rp150 juta per tahun. Dengan kondisi kerusakan jalan yang cukup banyak, tentu anggaran tersebut sangat terbatas,” ujar Muhtar.
Ia menjelaskan, sebelumnya anggaran pemeliharaan jalan per UPTD sempat mencapai sekitar Rp300 juta. Namun saat itu anggaran tersebut masih termasuk untuk pembayaran gaji pegawai.
Setelah sistem penganggaran berubah dan gaji pegawai dialihkan ke sekretariat, dana yang tersisa untuk pemeliharaan jalan hanya berkisar Rp100 juta hingga Rp150 juta per UPTD per tahun.
Meski dengan keterbatasan anggaran, Dinas PUPR Magetan tetap memaksimalkan perbaikan jalan, terutama menjelang arus mudik Idul Fitri. Perbaikan dilakukan lebih intensif untuk mengurangi potensi kecelakaan akibat jalan berlubang.
Menurut Muhtar, perbaikan jalan sebenarnya dilakukan secara rutin sepanjang tahun oleh empat UPTD dan satu Unit Reaksi Cepat (URC) yang bertugas memantau kondisi jalan di lapangan.
“Setiap saat teman-teman dari empat UPTD dan satu URC selalu turun ke lapangan untuk melihat jalan yang berlubang. Tetapi karena momentumnya menjelang Idul Fitri, maka perbaikan kita lakukan lebih masif,” katanya.
Namun upaya perbaikan jalan kerap menghadapi kendala, terutama akibat tingginya curah hujan serta kendaraan bermuatan berlebih atau Over Dimension Over Load (ODOL) yang melintas di sejumlah ruas jalan.
Muhtar menjelaskan, kondisi tersebut membuat tambalan jalan sering tidak bertahan lama. Jalan yang baru diperbaiki bisa kembali rusak setelah diguyur hujan atau dilalui kendaraan dengan muatan berat.
“Hari ini kita tembel, nanti malam hujan, besok sudah berlubang lagi. Ini yang cukup menyulitkan kami,” ujarnya.
Sejumlah ruas jalan yang kerap mengalami kerusakan berada di jalur kendaraan tambang, terutama yang berasal dari wilayah Trosono dan Temboro. Jalur tersebut kemudian menyebar ke sejumlah wilayah lain di Magetan.
Beberapa titik yang sering dikeluhkan masyarakat antara lain ruas Tanjungsepreh, Tinap, Jongke, serta jalur Parang menuju Ngariboyo, Tamanarum hingga Lembeyan.
Untuk mengatasi kerusakan yang cukup parah, pemerintah daerah sebelumnya juga telah melakukan pengecoran jalan di beberapa titik di wilayah Lembeyan yang sering dilalui kendaraan tambang.
“Di Lembeyan kemarin kita cor karena jalannya rusak parah akibat dilalui kendaraan tambang. Sekarang sudah dicor, meskipun masih ada beberapa titik yang belum tuntas dan akan kita perbaiki lagi,” kata Muhtar.
Ia berharap masyarakat dapat memahami keterbatasan anggaran yang dimiliki pemerintah daerah. Meski demikian, perbaikan jalan tetap akan dilakukan secara bertahap, terutama pada ruas yang mengalami kerusakan berat serta jalur dengan intensitas lalu lintas tinggi. [fiq/aje]






