Lampung (beritajatim.com) – Eks Ketua Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), Andi Arief, mengingatkan adanya potensi krisis baru yang dihadapi Indonesia di tengah situasi global yang kian tidak menentu.
Hal itu disampaikannya saat memberikan insight situasi global dan nasional menjelang buka puasa bersama Alumni PRD dan SMID di Lampung.
Dalam pidatonya, Andi Arief menilai Indonesia saat ini berada dalam kondisi rawan karena berpotensi mengalami krisis ganda atau double crisis, yakni krisis finansial domestik yang diperparah konflik global.
“Ada jenis krisis baru yang kehadirannya di tengah kita saat ini, ketika kita juga sedang mengalami krisis. Apa Indonesia sedang mengalami krisis finansial? Krisis finansial ini juga bisa menyebabkan sebuah negara krisis,” ujar Andi Arief.
Ia menegaskan bahwa tekanan terhadap kondisi ekonomi nasional tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dari dinamika geopolitik internasional, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
“Jadi ada double potensi krisis di negara kita ini karena pengaruh perang dan memang kondisi finansial kita,” tegasnya.
Lebih jauh, Andi Arief juga menyoroti melemahnya tatanan global, termasuk tidak lagi efektifnya hukum internasional dalam meredam konflik. “Hukum internasional sudah tidak dipatuhi. PBB sudah tidak didengar lagi,” katanya.
Ia menambahkan, kecenderungan negara-negara dunia saat ini lebih mengedepankan kepentingan sendiri dibanding kerja sama multilateral.
“Kecenderungan orang untuk membangun hubungan bilateral dan multilateral sudah habis. Ini sudah tidak ada lagi hukum internasional yang berlaku,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi persoalan serius yang dampaknya mulai terasa, meski belum sepenuhnya terlihat secara kasat mata.
“Ini menjadi masalah yang memang sekarang belum terlalu terlihat, walaupun dampaknya sudah terasa, seperti kenaikan harga energi, minyak bumi, kemudian juga sektor pertanian dan sebagainya,” jelasnya.
Di sisi lain, Andi Arief menyoroti kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dinilai tidak sehat, dengan beban utang tinggi serta belanja negara yang besar.
“APBN kita tidak sehat, utangnya tinggi, tapi belanjanya juga cukup besar. Ini yang sekarang menjadi tantangan,” katanya.
Dampak tekanan fiskal tersebut, lanjutnya, mulai dirasakan hingga ke daerah melalui kebijakan pemotongan anggaran di tingkat pemerintah provinsi hingga kabupaten.
“Kita lihat di daerah-daerah, misalnya pemotongan anggaran pemerintah di provinsi dan kabupaten, itu cukup berpengaruh,” ungkapnya.
Meski begitu, Andi Arief tetap menyampaikan optimisme bahwa Indonesia masih memiliki peluang untuk menghadapi tantangan tersebut, sebagaimana pengalaman dalam melewati berbagai krisis sebelumnya.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia pernah berhasil melewati krisis ekonomi 1998, krisis global 2008, hingga pandemi COVID-19 pada 2021–2023.
“Presiden Prabowo mewarisi masalah yang tidak gampang. Kita dulu menghadapi krisis ekonomi 1998, krisis Amerika 2008, lalu pandemi Covid 2021–2023, dan bisa kita atasi semua,” ujarnya.
Namun, ia menekankan bahwa situasi tahun 2026 memiliki karakter berbeda karena adanya kombinasi krisis fiskal dan konflik internasional.
“Kalau sekarang tahun 2026, jenisnya baru. Ada krisis fiskal dan krisis internasional, yaitu perang Amerika, Israel melawan Iran. Yang pasti ada dampaknya,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa konflik global yang tidak kunjung menemukan kejelasan berpotensi memicu dampak yang lebih luas ke depan. “Kalau konflik ini tidak ada kejelasannya, ke depan bisa mengakibatkan persoalan yang sangat serius, kita semoga berdoa agar Prabowo bisa menyelesaikannya” ungkapnya.
Andi Arief di akhir pidatonya mengingatkan kawan-kawan untuk tidak cepat merasa tua karena usia aktivis yang masih 50-60 tahun tetap bisa memimpin negara seperti Prabowo yang berusia 76 tahun masih kuat. “Indonesia tetap masih punya harapan. Para alumni PRD jangan melulu diskusi masa lalu (sejarah) atau kejayaan masa lalu. Tapi potensi kita memimpin masa depan juga perlu di diskusikan,”pungkasnya. (ted)






