Solo (beritajatim.com) – Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) menggelar pelatihan cek fakta guna memperluas pemeriksa fakta jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Pelatihan diikuti sejumlah media Jawa Timur dan Jawa Tengah mulai 19-21/11/2023 di Solo .
Ketua Departemen Kemitraan dan Hubungan Internasional AMSI, Amrie Hakim mengatakan, pelatihan yang digelar hari ini bertujuan untuk melawan dis/misinformasi menjelang Pemilu 2024 yang diperkirakan akan semakin banyak. Seperti pada pemilu sebelumnya, gangguan informasi tumbuh subur.
“Kegiatan cek fakta terus diperluas, seperti yang dilakukan hari ini merupakan rangkaian dari pelatihan yang juga sudah diselenggaran di Jakarta, Padang, Makasar, Denpasar, dan di Solo ini yang terakhir,” ujarnya, Minggu (19/11/2023).
Dengan memperluas jaringan pemeriksa fakta ini, diharapkan peserta yang telah mengikuti training bisa menerapkan ilmu yang didapatkan untuk memproduksi konten cek fakta yang berkualitas menjelang Pemilu 2024. Disadari, bahwa penyebaran hoaks kini lebih banyak dibanding pemeriksa fakta.
“Jumlah jurnalis yang menguasai cek fakta memang masih minim, sehingga setelah pelatihan ini diharapkan bisa semakin luas,” imbuh pria yang juga sebagai Supervisor Program Cek Fakta AMSI.
Baca Juga: AMSI Gelar Diskusi Petakan Data Hoaks Jelang Pemilu
Sementara Koordinator AMSI wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY, Arief Rahman menambahkan, gerakan cek fakta saat ini masih belum banyak yang melakukannya, baik itu organisasi media maupun organisasi jurnalis. Sehingga, AMSI berkomitmen untuk menjadikan program cek fakta sebagai program unggulan.
“Serta ke depan bisa menggandeng lebih banyak organisasi lain untuk memberikan literasi digital kepada masyarakat di era banjir informasi,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Ketua AMSI Jatim itu.
Arief menambahkan, peserta yang hadir ini ke depan akan berjuang untuk menyelamatkan polarisasi, dan masyarakat lebih terdidik dan cerdas dalam menerima informasi.
Sementara Trainer Prebunking Google News Initiative Tri Suharman mengatakan, sedikitnya ada tujuh bentuk dis/misinformasi yang sudah teridentifikasi sampai saat ini. Yakni, satire/parodi, konten menyesatkan, konten asli tapi palsu, konten pabrikasi, informasi tidak nyambung, konteksnya salah, dan konten manipulatif.
“Sementara untuk modus hoaks ini ada tiga, yaitu berita daur ulang, berupa gambar untuk mempengaruhi narasi dan konspirasi,” terangnya.
Untuk diketahui, training cek fakta digelar antara AMSI bekerjasama dengan cek fakta, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), dan Google News Initiative (GNI). Peserta yang ikut dalam kegiatan tersebut sekitar 30 peserta perwakilan jurnalis maupun pers kampus di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Beritajatim.com juga mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti training cek fakta ini. Jurnalis beritajatim.com yang ikut adalah Tulusno Budi Santoso yang biasa bertugas di wilayag Bojonegoro dan sekitarnya. [lus/ted]






