Surabaya (beritajatim.com) – Masyarakat digegerkan dengan hadirnya amoeba pemakan otak yang telah menewaskan beberapa orang. Terlebih setelah Korea Selatan mengumumkan kematian pertama di negara mereka akibat penyakit ini pada Senin (26/12).
Dilansir melalui The Korea Herald, Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) mengonfirmasi, korban kasus amoeba pemakan otak merupakan pria berusia sekitar 50 tahun yang baru kembali dari Thailand. Pria itu kembali ke Korea pada 10 Desember 2022 setelah empat bulan bertugas di sana.
Setelah 10 hari menunjukkan gejala yang mirip seperti meningitis seperti sakit kepala, muntah, demam, dan leher terasa kaku, lelaki tersebut berakhir meninggal dunia. Hasil pemeriksaan pun menemukan bahwa infeksi tersebut disebabkan oleh amoeba pemakan otak.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kesehatan”]
Apa Itu Amoeba dan Amoeba Pemakan Otak?
Amoeba sendiri masuk dalam jenis hewan mikro yang tidak dapat kalian lihat dengan mata telanjang, hanya bisa melalui mikroskop. Mereka berkembang dengan cara membelah diri dan bisa ditemukan di air tawar yang hangat, seperti danau, sungai, mata air panas, bahkan tanah sekalipun.
Sementara itu, amoeba yang menghantui masyarakat ini disebut dengan Naegleria fowleri, disebutkan menjadi satu – satunya amoeba dari spesies Naegleria yang menginfeksi manusia. Amoeba pemakan otak ini ditemukan pertama kali di tahun 1965.
Bagaimana Seseorang Bisa Terinfeksi Amoeba Pemakan Otak?
Salah satu cara yang memungkinkan amoeba mematikan ini dapat menginfeksi manusia adalah melalui air yang mengandung amoeba dan masuk melalui hidung. Bisa saat kalian berenang di danau atau sungai.
Kemudian, amoeba yang masuk ke tubuh berjalan dari hidung ke otak. Di situ lah Naegleria Fowleri mulai menghancurkan jaringan otak dan menyebabkan infeksi meningoensefalitis amebik primer (PAM) yang dapat berakibat fatal.
Tidak hanya di sungai atau danau, amoeba ini juga mengkontaminasi air keran di rumah kalian atau di kolam renang tempat rekreasi yang tak sengaja masuk ke hidung. Meski begitu, disebutkan bahwa seseorang tidak bisa terinfeksi Naegleria Fowleri dari air yang diminumnya, ataupun tertular dari manusia ke manusia lain.
Masa inkubasi Naegleria fowleri biasanya dari dua hingga tiga hari dan paling banyak hingga 15 hari, walaupun begitu KDCA meminta warga untuk tidak berenang di daerah dan lingkungan di mana penyakit itu menyebar. (mnd/nap)






