Surabaya (beritajatim.com) – Persaingan perguruan tinggi di Indonesia untuk meraih posisi teratas Webometrics kian ketat. Kampus-kampus besar berlomba meningkatkan visibilitas digital, publikasi ilmiah, dan kualitas riset.
Dalam edisi pemeringkatan terbaru, Universitas Airlangga (Unair) menempati peringkat ke-3 nasional dengan world rank 711 dan impact rank 693. Posisi ini berada di bawah Universitas Indonesia (540/365) dan Universitas Gadjah Mada (700/603), sekaligus mengungguli Institut Teknologi Bandung (846/765) dan Universitas Brawijaya (852/441).
Daftar 10 Universitas Terbaik di Indonesia versi Webometrics 2025:
1. Universitas Indonesia – World Rank 540 / Impact Rank 365
2. Universitas Gadjah Mada – 700 / 603
3. Universitas Airlangga – 711 / 693
4. Institut Teknologi Bandung – 846 / 765
5. Universitas Brawijaya – 852 / 441
6. IPB University – 935 / 722
7. Universitas Sebelas Maret – 1027 / 763
8. Universitas Hasanuddin – 1172 / 1143
9. Institut Teknologi Sepuluh Nopember – 1172 / 1074
10. Telkom University – 1201 / 649
Capaian ini membanggakan, namun belum cukup bagi kampus berlogo Garuda Mukti itu. Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Unair, Dr. Ardianto menjelaskan, Webometrics menilai kinerja perguruan tinggi berdasarkan tiga indikator utama, yakni visibility, openness, dan excellence.
“Visibility mengukur sejauh mana informasi ilmiah universitas dapat diakses luas, openness terkait keterbukaan data dan publikasi, sedangkan excellence menilai kualitas publikasi yang diakui secara global,” paparnya, Selasa (12/8/2025).
Menurutnya, ketiga indikator itu saling berhubungan dan menjadi tolok ukur kontribusi universitas dalam penyebaran pengetahuan. Hal inilah yang menjadi motivasi Unair untuk bergerak lebih cepat. “Ketika capaian Webometrics meningkat, indikator lain seperti citation dan reputasi riset juga terdorong naik,” tegasnya.
Strategi Digital dan Pemantauan Kinerja
Unair menempuh berbagai langkah strategis demi mewujudkan target peringkat 1. Salah satunya adalah pengembangan dashboard pemantauan yang memungkinkan pengawasan posisi dan kinerja universitas secara real time.
“Dengan alat ini, kami bisa mengetahui posisi terkini dan segera melakukan percepatan jika ada kendala. Kami juga memperbaiki repository institusi agar lebih optimal mendukung ketersediaan data,” ungkap Ardianto.
Ia menambahkan, strategi tersebut tidak hanya untuk mendongkrak peringkat nasional, tetapi juga untuk meningkatkan visibilitas internasional Unair. “Harapannya, kita tidak hanya bersaing di tingkat nasional, tetapi juga mampu menembus papan atas di tingkat global,” ujarnya.
Direktur Direktorat Sistem Informasi dan Digitalisasi (DSID) Unair, Yunus Abdul Halimm S.Si., M.Kom., menyebut keberhasilan menembus peringkat 3 ini merupakan hasil kerja kolektif.
“Alhamdulillah, capaian ini hasil dari kolaborasi lintas unit di Unair, mulai dari LIPJPHKI, PKIP, seluruh fakultas, hingga unit kerja lainnya. Semua pihak berkontribusi,” jelas Yunus.
Semangat kolaborasi inilah yang akan menjadi modal utama Unair untuk mewujudkan ambisinya. Target peringkat 1 bukan hanya mimpi, tapi tujuan yang bisa dicapai dengan kerja bersama. [ipl/suf]






