Jember (beritajatim.com) – Alokasi pupuk kimia bersubsidi kembali dipangkas pemerintah. Dinas Tanaman Pangan dan Hortikutlura Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyarankan petani mulai intensif menggunakan pupuk organik sebagai siasat.
Tahun 2023, alokasi urea 66 ribu ton dan NPK 38.200 ton. Tahun 2024, sesuai Peraturan Gubernur, alokasi urea bersubsidi berkurang jadi 37.007 ton, dan NPK 24.257 ton.
“Memang sekarang alokasi pupuk sesuai kebijakan nasional kan turun. Jadi kami mengharapkan petani Jember bisa lebih maju dengan memaksimalkan pupuk yang ada dengan pemupukan berimbang, atau dengan menggunakan pupuk organik. Ini untuk menjaga produksi (padi) di Jember,” kata Kepala Dinas TPHP Jember Imam Sudarmaji, Jumat (19/1/2024).
Tahun lalu produksi padi di Jember mencapai sekitar 960 ribu ton. “Turun tapi tak signifikan. Tapi karena rata-rata produksi di Jember masih rendah, kami harapkan bisa meningkatkan produksi dengan mengembalikan kesuburan tanah,” kata Imam.
Imam mengatakan, kesuburan tanah di Jember buruk karena penggunaan pupuk kimia berlebihan selama puluhan tahun. “Masyarakat belum paham, berapa sih pupuk yang harus saya berikan. Kami adakan sosialisasi (pupuk organik) terus kepada petani,” katanya.
Menurut Imam, ada petani pengguna pupuk organik yang berhasil meningkatkan produksi. “Harapannya penggunaan pupuk organik ini seimbang, tidak lepas dari pupuk kimia. Perbandingannya 50-50, sehingga bisa meningkatkan produksi pertanian,” katanya.
Saat ini sebagian petani sudah mulai mengupayakan sendiri produksi pupuk organik. Pemkab Jember juga sudah mendirikan pabrik pupuk organik. “Setelah kami produksi, kami akan berikan gratis, dan selalu ada uji coba untuk perbaikan kualitas,” kata Imam.
Soal luas lahan pertanian, Imam tak khawatir akan berkurang. “Kami sudah menetapkan LP2B (Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan) 86.368 hektare. Insyallah lahan akan terlindungi. Kami juga membuat peta-peta lahan cadangan apabila ada pengembangan kota atau investor yang hendak masuk,” katanya. [wir]






