Sektor Informal merupakan istilah lain untuk menyebut masyarakat kelas bawah. Secara ekonomi aktivitas usaha sektor informal adalah usaha di sektor ekonomi mikro, seperti pedagang kaki lima atau usaha-usaha kecil skala rumahan. Sedangkan di desa-desa sebagai buruh dan petani subsisten. Menurut data BPS jumlah pekerja sektor informal mencapai 78,14 juta orang pada bulan Februari 2021 atau naik sebesar 2,64 juta dibanding tahun sebelumnya. Sektor Informal sebagai pelaku usaha secara statistik jumlahnya sangat banyak di Indonesia.
Sayangnya keberadaan mereka saat ini belum dianggap sebagai realitas ekonomi yang membawa berkah dan mampu menopang ekonomi formal. Keberadaan sektor informal dianggap hanya sekedar pengganggu ketertiban dan kebersihan kota saja. Meskipun realitas mereka sebenarnya memiliki arti yang sangat signifikan dalam menopang industri-industri besar.
Akuntansi Sektor Informal
Uniknya seringkali dalam menjalankan aktivitas bisnis usaha Sektor Informal memiliki konsep ekonomi yang berbeda dari konsep-konsep ekonomi baku. Misalnya saja dalam menterjemahkan laba akuntansi sering disamakan dengan keuntungan. Laba akuntansi merupakan selisih pendapatan dan keuntungan setelah dikurangi beban dan kerugian. Standar Akuntansi Keuangan sering mengartikan sebagai profit dan earnings yang sering disamakan dengan laba juga. Namun tidak bagi Sektor Informal ini, laba maknanya bisa sangat berbeda dengan konsep akuntansi yang lazim. Aktivitas ekonomi yang dijalankan oleh sektor informal seperti pedagang kaki lima atau warung-warung memiliki pemahaman sendiri dalam memaknai laba.
Bagi Sektor Informal laba maknanya bisa disamakan dengan keuntungan. Apa yang bisa didapat hari ini dan bisa digunakan untuk kehidupan hari ini adalah keuntungan atau laba menurut kalkulasi atau perhitungan akuntansi Sektor Informal. Dalam realitas usaha Sektor Informal tidak pernah mengenal konsep biaya. Pada kenyataannya dalam berusaha seringkali mereka mengalami kerugian karena tidak memperhitungkan biaya-biaya yang seharusnya dikalkulasi sebagaimana seharusnya dalam menjalankan aktivitas bisnis usaha misalnya biaya tenaga kerja atau biaya depresiasi. Meskipun demikian usaha mereka bisa terus bertahan menghadapi gonjangan hidup. Hal ini tidak terlepas dari kekuatan filosofi hidup dalam batin pelaku usaha sektor informal dalam memaknai usaha dan kehidupan. Konsep laba yang ada dibenak mereka ini sangat dipengaruhi dari filosfi hidup yang selama ini mereka pegang teguh.
Filosofi Hidup
Keunikan usaha Sektor Informal tidak terlepas dari filosofi hidup masyarakat bawah ini. Khususnya pada masyarakat Jawa, masyarakat bawah terutama yang berakar dalam tradisi agraris. Sejak dahulu memiliki kebiasaan budaya berbagi kepada para tetangga. Hidup bagi Sektor Informal memiliki makna kebersamaan dan berbagi. Dalam menjalankan usaha banyak yang masih memegang teguh filosofi rugi sathak bathi sanak. Kalau diterjemahkan secara harifiah rugi sathak berarti tidak laba dalam pengertian akuntansi. Ketika berdagang adakalanya yang dikejar bukan laba dalam pengertian materi. Tetapi yang dikejar adalah keuntungan. Konsep keuntungan itu diterjemahkan dalam filosofi hidup bathi sanak. Kalau diterjemahkan berarti memiliki banyak saudara. Jadi proses usaha dan berdagang bagi Sektor Informal tidak bisa serta merta disamakan dengan akumulasi modal dalam konsep kapitalisme.
Berusaha dalam memenuhi nafkah hidup dengan berdagang bagi Sektor Informal merupakan upaya dalam pengejaran keuntungan. Filosofi hidup Sektor Informal ini selalu dimaknai dalam konteks rasa syukur. Keuntungan dalam Bahasa Jawa diterjemahkan dengan istilah bejo. Maka mendapatkan ketenangan batin bagi Sektor Informal ini sama artinya menemui kabegjan atau bejo. Manusia itu akan beruntung bila dalam hidup itu penuh ketenangan batin tidak ngoyo atau serakah. Rugi materi tidak mengapa bagi Sektor Informal tetapi jangan sampai kehilangan persaudaraan atau bathi sanak. Filosofi hidup ini secara turun temurun diajarkan dari generasi ke generasi dan membentuk semacam budaya yang mempengaruhi secara positif dalam menghadapi goncangan kehidupan. Sehingga meskipun Sektor Informal banyak yang hidup hanya dari sektor informal tetapi tetap exis bahkan membawa dampak postif bagi ekonomi dan lingkungan.
Saling Mensubsidi
Sering kita lihat di kampung-kampung realitas usaha kecil itu saling mensubsidi di antara mereka. Para penjual makanan menjual makanan dengan harga yang sangat murah dan terjangkau. Menurut perhitungan harga pokok akuntansi seharusnya mereka merugi. Tidak masuk akal kalau mereka terus mempertahankan keberlangsungan usahanya. Tetapi filosofi hidup yang terpatri dalam alam bawah sadar secara turun temurun ini membuat mereka tetap melakukan dan bertahan dalam usaha ini. Hal ini karena beraktivitas ekonomi bagi Sektor Informal tidak semata-mata mencari materi tetapi dimaknai juga sebagai usaha saling berbagi (baca: saling mensubsidi). Maka tak heran jika kita sering melihat banyak sekali warung-warung tersebut yang pada akhirnya tutup atau mengalami kebangkrutan karena kehabisan modal usaha. Namun di hari kemudian muncul lagi begitu seterusnya.
Menurut hitungan akuntansi adakalanya usaha yang dijalankan tidak lagi memperhitungkan biaya tenaga kerja dan modal. Warung-warung penjual makanan murah itu sudah cukup senang secara batin bila makanan sudah laku. Kesenangan batin yang dialami saat usaha bisa berjalan dan besok masih ada modal kerja untuk kembali berjualan makanan murah. Adakalanya biaya tenaga kerja tidak lagi diperhitungkan secara cermat sebagaimana layaknya usaha. Yang penting hari ini mendapat keuntungan. Namun keuntungan disini bukan lagi laba dalam pengertian akuntansi akan tetapi keuntungan dalam pengertian batin yang diliputi rasa kebahagian masih bisa menjalani hidup dengan sedikit sisa hasil usaha untuk makan hari ini.
Mensubsidi Sektor Formal
Keberadaan usaha informal ini sebenarnya sangat membantu industri besar. Pabrik-pabrik secara tidak langsung kehidupannya disubsidi oleh sektor informal ini. Para buruh pabrik dengan upah kecil sangat tidak mungkin bisa bertahan hidup tanpa kehadiran sektor informal. Usaha Sektor Informal menyediakan kebutuhan pangan murah pada saat jam-jam istirahat di pabrik-pabrik atau kawasan industri. Pedagang kaki lima penjual mie ayam, penjual bakso dan aneka makanan murah di sekitar lokasi industri, pabrik dan perkantoran itulah yang membuat roda industri terus berputar sampai sekarang.
Tanpa kehadiran sektor-sektor informal mungkin akan lebih banyak lagi pabrik-pabrik yang gulung tikar. Secara logika para buruh pabrik dengan penghasilan kecil tidak mungkin akan hidup tanpa disubsidi oleh para pedagang informal ini. Sementara itu pabrik–pabrik besar hidupnya juga sangat membutuhkan buruh pabrik yang bisa dibayar murah. Sehingga sebenarnya secara substansi sektor informal yang dijalankan oleh Sektor Informal ini sangat berjasa terhadap keberlangsungan hidup industri besar. Sayangnya secara akuntansi catatan keuangan mereka sampai saat ini belum mengalami perbaikan. Taraf hidup ekonomi mereka dari tahun-ke tahun belum mengalami perubahan yang menggembirakan. [but]
Penulis:
Abdulhadi, S.Pd., M.Ak.
Dosen STIE Widya Darma Surabaya






