Jakarta (beritajatim.com) – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daker Madinah melakukan serangkaian aksi responsif untuk menangani kepadatan jemaah dan kendala logistik di Mina pada Rabu (28/01/2026) malam. Langkah darurat mulai dari pengalihan tenda petugas hingga penanganan medis cepat diambil guna menjamin keselamatan serta kenyamanan jemaah yang baru tiba dari Muzdalifah.
Suasana di Ad Hoc Sektor 4 Mina sempat memanas saat rombongan jemaah menemukan tenda yang dituju telah penuh sesak. Kondisi fisik yang lelah dan lapar membuat ratusan jemaah diliputi kecemasan luar biasa saat tiba di titik penurunan.
“Pak, kami sudah lelah, di mana kami harus istirahat?” desak ketua rombongan (Karom) yang mengkhawatirkan kondisi jemaah yang belum makan.
Melihat sisa satu tenda yang sudah tidak muat, petugas mengambil keputusan cepat namun empatik dengan menawarkan tenda petugas untuk ditempati jemaah sementara waktu. Keputusan ini diambil agar para tamu Allah tersebut bisa segera meluruskan kaki sambil menunggu pengaturan teknis lebih lanjut dari Kadaker.
“Jemaah harus tetap tertib dan aman, itu prioritas kami,” ujar salah satu petugas menenangkan situasi di lokasi.
Permasalahan lain muncul di Ad Hoc Sektor 1 sekitar pukul 21.00 WAS terkait keterlambatan distribusi konsumsi bagi jemaah. Perut lapar dan tubuh yang lelah mulai memicu keresahan massa karena beberapa kotak makanan habis sebelum semua terlayani.
“Tunggu ya Bapak dan Ibu, makanan sedang disiapkan di maktab dan segera didistribusikan,” ucap petugas dengan lembut berusaha meredam ketegangan.
Hasil koordinasi intensif dengan tim konsumsi membuahkan hasil berupa pengiriman 40 porsi tambahan termasuk menu bubur khusus untuk lansia. Suasana yang semula tegang seketika mencair dan berganti dengan rasa syukur dari para jemaah.
Di Sektor 5, keterlambatan konsumsi berdampak fatal bagi jemaah Risiko Tinggi (Risti) hingga dilaporkan ada yang lemas dan terjatuh. Petugas yang bersiaga langsung membopong jemaah tersebut untuk mendapatkan penanganan medis darurat dari tim kesehatan di lokasi.
Satu jemaah harus segera dirujuk ke Maktab 8 melalui panggilan darurat 123 demi menyelamatkan nyawanya. Suara sirine ambulans yang memecah keheningan Mina menjadi bukti nyata ketatnya koordinasi rujukan medis di tengah kepadatan ekstrem.
Arus jemaah mulai bergeser menuju Jamarat untuk melakukan prosesi lempar jumroh sekitar pukul 20.30 WAS. Di tengah desakan massa yang bergerak satu arah, seorang jemaah sempat terpisah dari rombongannya dan berdiri mematung karena kebingungan.
Petugas PPIH yang bersiaga dengan moto “Cepat, Tepat, dan Aman” segera mengamankan jemaah tersebut ke pos penjagaan. Setelah ditenangkan, petugas membantu menelusuri identitas rombongannya agar jemaah tersebut bisa kembali ke tenda asalnya dengan selamat.
Rangkaian ibadah berlanjut saat jemaah bergerak menuju Mekkah untuk melaksanakan Tawaf Ifadah dan Sai dalam kondisi Masjidil Haram yang sangat padat. Pergerakan massa yang melambat signifikan menuntut kesiagaan penuh dari tim bimbingan ibadah (Bimbad) di lapangan.
Tim Bimbad tidak hanya memberikan bantuan fisik bagi jemaah yang kelelahan, tetapi juga menuntun doa dan memberikan motivasi spiritual. Kehadiran mereka memastikan jemaah tetap fokus menyelesaikan rukun haji dengan sempurna meski kondisi raga nyaris tumbang akibat kelelahan fisik yang luar biasa. [ian/beq]






