Dalam bahasa Prancis, dejavu secara harfiah diterjemahkan menjadi pernah dilihat. Ini sebuah fenomena psikologis, saat seseorang mendadak merasa pernah mengalami situasi atau sebuah kondisi yang sama persis dengan situasi beberapa waktu lampau, kendati sebenarnya itu tidak pernah terjadi sebelumnya.
Liga Inggris 2021-22 tengah dilanda spekulasi bakal terjadinya dejavu atau berulangnya sejarah sebagaimana sepuluh tahun silam. Musim 2011-12, juara Liga Primer Inggris adalah Manchester City. Tim asuhan Roberto Mancini itu membungkus 89 angka, hanya unggul selisih gol dari sang runner up, Manchester United, yang waktu itu dilatih Alex Ferguson.
Juara Piala Liga adalah Liverpool yang mengalahkan Cardiff City 3-2 di babak adu penalti, setelah bermain imbang 2-2 dalam waktu normal. Juara Piala FA adalah Chelsea yang menundukkan Liverpool 2-1 melalui gol Ramires dan Didier Drogba.
Sepuluh tahun kemudian, situasi yang nyaris sama terjadi kembali di Liga Inggris. Piala Liga sudah dimenangi Liverpool setelah mengalahkan Chelsea, tim yang berkostum biru seperti Cardiff dan juga melalui adu penalti.

Dalam final Piala FA, Liverpool akan berhadapan dengan Chelsea kembali pada 14 Mei 2022 di Stadion Wembley. Sebelumnya, di semifinal, Liverpool mengalahkan tim berkostum biru Manchester City 3-2, seperti mengalahkan Everton 2-1 yang juga berkostum biru pada 2012. Sementara Chelsea mengalahkan sesama tim London Crystal Palace 2-0, sebagaimana satu dasawarsa lalu mengalahkan Tottenham Hotspur.
Sementara itu, di kompetisi Liga Primer, Manchester City bersaing ketat dengan tim berkostum merah. Jika pada musim 2011-12, City bersaing dengan Manchester United, dan musim ini bersaing dengan Liverpool. Sampai pekan ke-31, selisih poin Manchester City dan L:iverpool tinggal satu. Tidak tertutup kemungkinan hingga akhir musim keduanya saling kejar, sama ketatnya dengan musim 2011-12.
Seberapa besar potensi situasi yang sama terulang kembali? Tentu ada banyak variabel yang lebih kompleks musim ini dibandingkan sepuluh tahun lalu. Salah satu variabel yang menentukan tentu saja ada pada manajer Manchester City, Liverpool, dan Chelsea. Selama lima tahun terakhir, manajer City Pep Guardiola dan manajer Liverpool Jurgen Klopp sudah bersaing ketat di level domestik dan Eropa. Mereka saling mengalahkan dan saling sanjung. Bahkan Guardiola menyebut Klopp adalah rival terberatnya selama menjadi pelatih.
Hal ini tidak ditemui pada 2011-12. Rivalitas Mancini dan Ferguson tidak terbentuk, terutama karena Mancini baru melatih Manchester City pada 2009-10. Sebelumnya, mereka tidak punya sejarah beradu taktik. Ini berbeda dengan Klopp dan Guardiola yang sudah saling bentrok sejak sama-sama melatih di Bundesliga.
Klopp dan Guardiola adalah pelatih yang memiliki karakter sepak bola yang sama dengan pendekatan yang berbeda. Mereka sama-sama menyukai garis pertahanan tinggi dan menguasai bola selama mungkin. Bedanya, Klopp lebih agresif dan ‘direct’ dalam merebut bola dan tidak berminat memainkan bola berputar-putar seperti Guardiola.
Di tengah persaingan itu, Thomas Tuchel yang melatih Chelsea muncul sebagai orang ketiga. Pada awal musim, sebagian besar, bahkan boleh dibilang semua, pandit di Inggris lebih menjagokan Manchester City dan Chelsea bakal bersaing ketat. Buruknya performa Liverpool pada musim 2020-21 karena badai cedera membuat anak asuh Klopp dipandang sebelah mata.
Namun ternyata di tengah perjalanan, Chelsea kehabisan bensin. Tuchel seperti kehilangan daya sentuh dalam meracik taktik. Situasi saat ini makin sulit, setelah Chelsea terimbas konflik politik global Rusia dan Ukraina. Roman Abramovich, oligark Rusia yang memiliki Chelsea, dipaksa untuk menjual klub tersebut sebagai salah satu tekanan politik pasca Rusia menginvasi Ukraina.
Jadi, masih jauh untuk memastikan bahwa sejarah akan berulang persis sebagaimana musim 2011-12. Siapapun bisa terpeleset. Bahkan Manchester City yang saat ini berada di atas angin karena hingga pekan ke-38 memiliki sisa pertandingan lebih mudah daripada Liverpool. [wir]






