Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Surabaya (Ubaya) melalui Center for Aging Wellness (CAW) bekerja sama dengan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Sidoarjo menggelar Akademi Digital Lansia (ADL) bagi 50 pra lansia dan lansia. Kegiatan literasi digital yang berlangsung di Ruang Serba Guna Fakultas Psikologi Ubaya ini mengusung tema Lansia Bersama Bugar Digital (LANSIA BERBUDI) sebagai bagian dari program Tular Nalar yang didukung oleh Google.org.
Pelatihan ini ditujukan untuk membekali lansia agar mampu menavigasi ruang digital dengan berpikir kritis dan bijak, sekaligus menjembatani kesenjangan teknologi yang kerap menjadi tantangan bagi generasi tua di era digital. Salah satu materi utama dalam pelatihan adalah pencegahan penipuan online melalui pendekatan WAKUNCAR (Waspada-Kunjungi-Cari), yang diperkenalkan dalam segmen pertama.
“Lansia termasuk kelompok rentan terhadap ekses negatif dunia digital. Pelatihan ini hadir untuk membantu mereka lebih cakap dan aman ketika hadir di dunia digital,” ujar Inayah Sri Wardhani, S.Psi., Koordinator Wilayah Mafindo Sidoarjo, dalam siaran persnya, Selasa (17/6/2025).
Selain WAKUNCAR, para peserta juga belajar tentang etika berselancar di internet serta kemampuan untuk mengenali hoaks dalam sesi bertajuk menjadi bugar menginderaan hoaks. Di segmen keempat, suasana pelatihan semakin hangat dengan Senam Gadget, yakni aktivitas fisik ringan yang dipandu secara interaktif dan penuh canda tawa.
Ketua CAW Ubaya, dr. Astrid Pratidina Susilo, Sp.An-TI, PhD menyampaikan bahwa CAW berkomitmen menjadi pusat informasi dan edukasi lansia di wilayah perkotaan. “Ini adalah bentuk edukasi literasi digital agar lansia bisa mandiri dan aman berada di dunia internet,” tegasnya.
Komitmen ini juga mendapat dukungan dari IKA Universitas Surabaya melalui Komisariat Fakultas Psikologi dan Perhimpunan Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Surabaya, yang turut memperkuat dampak pelatihan ini melalui kolaborasi strategis.
Vincentia Diana, salah satu peserta terbaik dalam pelatihan ini mengaku mendapat banyak wawasan baru tentang cara memilah informasi di era banjir data. “Kita harus berpikir seribu kali sebelum membagikan informasi. Jangan sampai informasi yang kita sebarkan ternyata salah dan seluruh Indonesia menerima kesalahan kita,” ungkapnya.
Program ini tidak hanya menekankan pada peningkatan kapasitas digital, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan semangat kebersamaan di antara para peserta lansia yang hadir dari berbagai latar belakang. [uci/beq]






